Akibat Kata “Nanti! Nanti!” dan “Nanti…!”

0
130

Akibat Kata “Nanti! Nanti!” dan “Nanti…!”

Buletin-al-Fikrah 

Yang bisa membunuh kita salah satunya adalah perbuatan menunda-nunda. Orang bijak berkata, “Barangsiapa yang menanam benih ‘nanti’, maka akan tumbuh sebuah tanaman bernama ‘mudah-mudahan’, yang memiliki buah bernama ‘seandainya’, yang rasanya adalah ‘kegagalan dan penyesalan’.”

Jadi, apabila Anda melihat seorang pemuda yang mengatakan, “Nanti, nanti,” maka cucilah kedua tangan Anda dari dirinya. Ketahuilah bahwa ia nanti akan berganti-ganti tempat.

Anda mungkin pernah mengenal seseorang, yang ketika Anda berkata kepadanya, “Tidakkah kamu menghafal Alqur’an?” Ia katakan, “Akan saya hafal nanti, insya Allah.” Kalaulah Perang Dunia III berlangsung pastilah Alqur’an masih belum dihafalnya. Bahkan sampai ia mati pun, Alqur’an masih belum dihafalnya juga.

Atau Anda berkata kepadanya, “Mengapa Anda tidak sungguh-sungguh belajar?” Ia katakan, “Sekarang masih awal-awal semester, nantilah menjelang mid test.” Mid test pun tiba dan ia belum juga mengulangi pelajarannya. Ia kembali berkata, “Nantilah kalau final test sudah dekat, aku sulit konsentrasi belajar kalau ujian belum di ambang pintu.” Ujian akhir pun tiba, tapi tidak ada yang bisa ia lakukakan selain duduk terpaku di hadapan tumpukan buku pelajarannya.

Benar, kata seorang penyair,

الْوَقْتُ كَالسَّيْفِ إِنْ لمَ ْتَقْطَعْهُ يَقْطَعْكَ

“Waktu itu laksana pedang, jika Anda tidak memanfaatkannya, maka dia akan menebas Anda.”

Disebutkan Ibnu Mubarak—rahimahullah—dalam kitab Az-Zuhd bahwa ada sebagian ulama tabi’in yang berkata, “Ketika sakaratul maut datang, kata-kata ‘nanti’ pasti akan membuat kalian menyesal.”

Allah mengungkapkan aib musuh-musuh-Nya di dalam Al Qur’an. Firman-Nya:

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al Hijr: 3).

Sebagian ahli tafsir mengatakan, “Sebab mereka dulunya selalu menggunakan kata-kata ‘nanti’.” Artinya, nanti akan saya lakukan, nanti akan saya hafal, nanti akan saya pelajari. Akhirnya Allah balas mereka dengan hal serupa.

NILAI SEBUAH WAKTU

– Menurut Alqur’an

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah bersumpah dengan waktu-waktu tertentu dalam beberapa surah Alqur’an, seperti al-lail (waktu malam), an-nahâr (waktu siang), al fajr (waktu fajar), adh-dhuhâ (waktu matahari sepenggalahan naik), al ‘ashr (masa). Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

“Demi malam apabila menutupi (cahaya) siang, dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 1-2).

“Demi fajar dan malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 1-2).

“Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. Adh-Dhuhâ: 1-2).

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al ‘Ashr: 1-2).

Ketika Allah Subhanahu wa ta’ala bersumpah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, maka hal itu menunjukkan urgensi dan keagungan hal tersebut. Dan agar manusia mengalihkan perhatian mereka kepadanya sekaligus mengingatkan akan manfaatnya yang besar.

– Menurut Sunnah

Seluruh manusia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap nikmat waktu yang telah Allah berikan kepadanya. Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam bersabda,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syekh Al Albani).

Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam pun telah mengabarkan bahwasanya waktu adalah salah satu nikmat di antara nikmat-nikmat Allah kepada hamba-hamba-Nya yang harus disyukuri.  Jika tidak, maka nikmat tersebut akan diangkat dan pergi meninggal pemiliknya.

Manifestasi dari syukur nikmat adalah dengan memanfaatkannya dalam ketaatan dan amal-amal shaleh. Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu)  kesehatan dan waktu luang.  (HR. Bukhari).

WAKTU LUANG, MANFAATKANLAH!

Waktu luang adalah salah satu nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia. Maka Anda akan melihat mereka menyia-nyiakannya dan tidak mensyukurinya. Padahal Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam telah bersabda, “Manfaatkan lima perkara sebelum datangnya lima perkara: [1] Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Hâkim, dishahihkan oleh Al Albani).

Maka seyogyanya bagi orang-orang yang berakal memanfaatkan waktu luangnya dengan perkara-perkara yang baik. Jika tidak, maka nikmat tersebut akan berubah menjadi bencana.

5 KIAT MENJAGA WAKTU

  1. Introspeksi diri

Tanyakan pada diri Anda; apa yang telah Anda lakukan pada hari ini? Di mana Anda memanfaatkan waktu Anda? Dalam hal apa Anda menghabiskan waktu Anda? Bertambahkah amal baik Anda hari ini ataukah justru amal buruk Anda yang bertambah?

  1. Camkan, waktu yang berlalu tak mungkin kembali

Hari-hari akan pergi. Setiap waktu akan berlalu. Setiap kesempatan akan tertutup. Tak mungkin mengembalikan dan menggantikannya. Inilah makna perkataan Al Hasan—rahimahullah, “Tiada hari yang berlalu atas anak Adam kecuali ia akan berkata, “Wahai Anak Adam! Aku adalah hari yang baru, dan atas segala perbuatanmu ada saksi. Apabila aku meninggalkanmu, maka aku tidak akan pernah kembali kepadamu. Maka kerjakanlah apa yang kau kehendaki, engkau akan mendapatkannya di sisimu. Dan tundalah apa yang kau kehendaki, maka ia tidak akan pernah kembali selamanya.”

  1. Ingat saat Kematian Menjelang

Ketika manusia akan beranjak meninggalkan dunia dan di hadapannya terhampar alam akhirat. Kala itu ia berangan, kalaulah ia diberikan perpanjangan umur untuk memperbaiki apa-apa yang telah ia rusak dari kehidupannya, dan untuk mengejar apa-apa yang telah ia lewatkan dalam kehidupannya. Akan tetapi, masukkanlah ke dalam peti dan tutuplah rapat-rapat lalu cucilah tangan Anda dari angan-angan kosong ini. Kesempatan beramal telah berakhir dan telah datang hari perhitungan dan pembalasan.

  1. Jauhi berteman dengan orang-orang yang menyia-nyiakan waktu

Berteman dengan orang-orang malas dan berbaur dengan orang-orang yang biasa menyia-nyiakan waktunya akan berpengaruh terhadap tindakan dan perbuatan Anda. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kenalilah seseorang dengan melihat dengan siapa ia berteman, karena orang yang menemaninya adalah semisal dengannya.”

  1. Ingatlah bahwa Anda akan ditanya tentang waktu Anda di hari kiamat

Ketika manusia berdiri di hadapan Rabb-nya pada hari itu, lalu ia ditanya tentang umurnya, bagaimana ia menghabiskannya? Di mana ia manfaatkan? Dalam hal apa ia gunakan? Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam bersabda, “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba sampai ia ditanya tentang lima perkara. Tentang umurnya, di mana ia habiskan? Tentang masa mudanya, dalam hal apa ia habiskan….”

Sumber: Buletin Alfikrah STIBA Makassar edisi 26 Tahun VI

stiba.ac.id/2015/05/21/akibat-kata-nanti-nanti-dan-nanti/

Baca Juga  Shalat yang Tertolak

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini