Al-Wala’ dan al-Bara’

0
32

Al-Wala’ dan al-Bara’

Buletin-al-Fikrah

Hidup adalah perjuangan, memperjuangkan kehormatan umat Islam yang saat ini tengah direnggut oleh para musuh. Mereka yang mencoba mendistorsi sejarah hingga kemenangan kaum muslimin seolah hanya menjadi dongeng yang penuh khayalan. Memutarbalikkan fakta dan berupaya mengklaim bahwa mereka adalah pemenang sejati. Padahal penggenggam sejarah peradaban adalah umat Islam bukan umat-umat yang lain.

Tatanan kepemimpinan yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam amat memberi maslahat terhadap kehidupan manusia di muka bumi. Bukan hanya kaum muslimin yang merasakannya namun umat lain pun mengakui sendiri kepiawaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjalankan roda kepemimpinan. Tentu ini menggambarkan akan kemuliaan Islam.

Hal ini yang melatarbelakangi munculnya hasad di dalam hati para musuh sehingga mereka memformulasikan bentuk baru dalam menyiasati umat Islam yang dikenal dengan alghazw al-fikr (perang pemikiran).

Di antara proyek mereka yang nampak saat ini adalah ramainya atribut-atribut Natal di instansi dan perusahaan. Ini demi menyambut perayaan besar tersebut tepatnya pada tanggal 25 Desember nanti. Sangat disayangkan kebanyakan masyarakat yang notabenenya muslim pun ikut-ikutan dalam menyambut perayaan ini.

Menjaga Eksistensi Tauhid Jalan Keselamatan

Perkara yang akan menyelamatkan seseorang dari tikaman para perusak ideologi Islam adalah tauhid, yakni mengesakan Allah dengan meyakini bahwa seluruh peribadatan hanya patut dipersembahkan untuk-Nya semata. Mengacu pada dalil-dalil yang shahih (benar) sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, serta menafikan seluruh sesembahan selain-Nya. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan),”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah para Thagut itu.” (QS. An-Nahl:36).

Cermati penuturan Ibnu Qayyim rahimahullah, “Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah memperbaiki bumi dengan datangnya utusan dan agama lalu memerintahkan (para makhluknya agar) bertauhid dan melarang membuat kerusakan di muka bumi dengan kesyirikan dan penentangan terhadap Sunnah Rasul-Nya. Barangsiapa yang merenungkan keadaan semesta alam secara baik pasti ia akan menemukan kesimpulan bahwa kedamaian di muka bumi disebabkan tegaknya tauhid, ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla dan menaati Rasul. Sementara kekacauan di muka bumi baik berupa fitnah, paceklik, penjajahan musuh dan berbagai macam bencana karena menentang Rasul dan mengajak kepada ajaran selain (ajaran) Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya.” (Tafsir Al Qayyim, Ibnul Qayyim halm. 255).

Tanggung Jawab Milik Bersama

Para kerabat adalah orang-orang yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari kita. “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. At-Tahrim:6)

Cermati makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas. Sejatinya seorang muslim adalah pejuang yang berani mengambil peran dalam menyuarakan kebenaran. Andai di antara mereka ada yang enggan menyampaikan kebenaran tentu tidak akan terwujud tauhid di muka bumi ini.

Urgensi al-Wala’ dan al-Bara’

Al-Wala’ didefinisikan dengan kecintaan, kedekatan, pembelaan, semua itu adalah untuk Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Maidah:56)

Adapun makna al-Bara’ adalah sikap berlepas diri dari para musuh Allah, Rasul-Nya dan agama-Nya. Dalam artian, orang-orang yang menyekutukan Allah Azza wa Jalla dalam peribadatan mereka kepada-Nya, apapun penisbatan dan syi’ar (slogan) mereka. Dalam hal ini Allah berfirman melalui lisan Ibrahim ‘alaihissalaam dan pengikutnya: “…Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…” (QS. Al-Mumtahanah: 4).

Syaikh Sa’ad Al-Hushayyin berkata, “Prinsip wala’ dan bara’ tidak berarti menjauhi interaksi dengan orang-orang kafir, atau yang di bawah mereka, yaitu ahli bid’ah, misalnya dalam persoalan jual-beli, perburuhan, kerja sama dalam pengelolaan tanah, saling mengunjungi, memberi hadiah, dan berakhlaq mulia. Apalagi mendakwahi mereka dan mendoakan mereka agar Allâh Azza wa Jalla memberikan hidayah kepada mereka, sebagaimana hal itu dilakukan oleh para utusan Allah dengan perintah-Nya.

Sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam di dalam membangun muamalah dengan mereka. Semua itu berdasarkan riwayat shahih dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk peminjaman senjata dari orang musyrik, memberi upah mereka sebagai penunjuk jalan beliau di dalam hijrah.

Di antaranya menjadikan orang musyrik sebagai mata-mata beliau, bekerjasama mengolah perkebunan dengan orang-orang Yahudi, padahal setelah nampak permusuhan mereka, dan perbuatan mereka yang membatalkan perjanjian. Bahkan beliau Shallallahu‘alaihi wasallam masuk kota Makkah dengan perlidungan al-Muth’im bin ‘Adi, padahal dia seorang musyrik.

Aqidah (keyakinan) wala’ dan bara’ juga tidak bertentangan dengan mengambil manfaat dari ilmu-ilmu dunia yang dimiliki oleh orang-orang kafir maupun yang di bawah mereka (keburukannya), yaitu orang-orang Islam yang bermaksiat. Memanfaatkan hasil karya dan pekerjaan mereka. Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memakai pakaian buatan orang-orang Nashara Syam, dan burdah (selimut) buatan orang-orang musyrik Yaman. Allah Azza wa Jalla berfirman, “Mereka (orang-orang kafir itu) hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Ruum:7)

Namun tidak boleh mengambil faedah dari pemikiran mereka dan agama mereka dalam memahami syariat dan wahyu Allah. Sebagian kaum Muslimin dahulu telah terjerumus dalam kesesatan yang nyata dengan sebab berusaha mengambil faedah dari filsafat Yunani dalam menjelaskan iman kepada Allâh. Mengambil tashawwuf orang-orang Hindu dan Persia dalam beribadah. Dan sekarang, (sebagian kaum Muslimin terjerumus dalam kesesatan yang nyata) dengan sebab menghubungkan wahyu dengan pemikiran, menghubungkan keyakinan dan persangkaan.

Jangan Sampai Tercebur Lumpur Kemurtadan

Nasihat para ulama untuk umat manusia tidak larut dan terbawa arus penyimpangan aqidah:

Pertama, memperdalam ilmu agama di antara jalan yang dapat menyelamatkan seseorang dari kerusakan cara berpikir yang melahirkan amalan-amalan pembatal keIslamannya. Allah subhanahu wata’ala menyebutkan dalam firman-Nya: “Maka janganlah engkau mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Quran dengan jihad yang besar.” (QS. Al-Furqon:52)

Makna berjihadlah terhadap mereka dengan al-Quran para ulama mendefinisikan dengan jihad ilmu dan al-Quran. Dan ketahuilah bahwa ilmu yang paling urgen adalah ilmu tauhid, mempelajari hak dan kewajiban hamba terhadap Tuhannya.

Kedua, menyampaikan ilmu. Sebagian besar masyarakat masih awam akan ajaran Islam. Tugas seorang yang telah paham agama adalah memahamkan orang lain terhadap apa yang telah ia ketahui sebagai bukti kepedulian kepada sesama umat manusia dan pengejawantahan dari nilai-nilai al-Quran dan al-Hadits yang menyatakan secara lugas bahwa sejatinya ilmu yang bermanfaat adalah apa yang ia sampaikan kepada orang lain.

Wallahu A’lamu bi ash-shawab

Penulis: Mohammad Marzuki Kai

Mahasiswa Semester V pada Prodi Perbandingan Mazhab dan Hukum di STIBA Makassar

stiba.ac.id/2015/12/24/al-wala-dan-al-bara/

Baca Juga  Ghadir Khum, Hari Raya Baru?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini