‘Amilatun Nashibah – Amalan yang Sia-sia

0
54

‘Amilatun Nashibah – Amalan yang Sia-sia

Buletin-al-Fikrah

Suatu hari Atha As-Salami, seorang Tabi`in bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara saksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, “Ya, Atha! Sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”

Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacatnya, Atha termenung lalu menangis. Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, “Atha, sahabatku! Aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya. Kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas.”

Tawaran itu dijawabnya, “Wahai Sahabatku! Engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? Ketahuilah, sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya ternyata ada cacatnya.

“Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah sebagai ahli-Nya ada cacatnya, itulah yang menyebabkan aku menangis.”

Tidak semua penghuni neraka adalah orang-orang yang selama di dunia kegemarannya hanya bermaksiat, kecanduan narkoba, korupsi, berzina, dan lain sebagainya. Ternyata, di antara penghuni neraka itu ada yang rajin beramal, bahkan sampai keletihan dalam beramal saking berat dan banyaknya amalannya.

Allah berfirman menceritakan keadaan salah satu ahli neraka,

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ . تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

“Rajin beramal lagi kepayahan, namun, memasuki api yang sangat panas (neraka).”(QS. al-Ghasyiyah: 3–4).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan satu riwayat dari Abu Imran al-Jauni, bahwa suatu ketika Umar bin Khatab Epernah melewati sebuah kuil, yang ditinggali seorang rahib nasrani.

Umar lalu memanggilnya, “Hai, Rahib! Hai, Rahib!” Rahib itu pun menoleh. Ketika itu, Umar terus memandangi sang rahib. Dia perhatikan ada banyak bekas ibadah di tubuhnya. Kemudian tiba-tiba Umar menangis.

Beliau pun ditanya, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuat Anda menangis? Mengapa Anda menangis ketika melihatnya.”

Jawab Umar, “Aku teringat firman Allah dalam al-Quran, (yang artinya) ‘Rajin beramal lagi kepayahan, namun, memasuki neraka yang sangat panas.’ Itulah yang membuatku menangis.” (Tafsir Ibn Katsir, 8/385).

Tahukah Anda mengapa mereka di neraka?Mereka rajin ibadah, namun semua sia-sia, justru mengantarkan mereka ke neraka.Apakah Allah menzalimi mereka? Tentu tidak, karena Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya. Allah telah mengharamkan atas diri-Nya untuk menzalimi hamba-Nya.

Lalu apa sebabnya?Tentu saja semua itu kembali kepada pelaku perbuatan itu. Sebabnya adalah dia keliru dalam beribadah. Dia beribadah, namun salah sasarannya, salah tata caranya, salah niatnya, salah yang disembah, atau salah semuanya. Sehingga bagaimana mungkin Allah akan menerimanya? Dan di saat yang sama, Allah justru memberikan hukuman kepada mereka. Wal ‘iyadzu billah.

Menyadari hal ini, sudah selayaknya kita bersyukur, Allah jadikan kita orang mukmin, padahal kita tidak pernah memintanya. Kita patut bersyukur, kita terlahir dari keluarga muslim, padahal kita tidak pernah diminta untuk memilihnya. Yang mana, perkara ini adalah salah satu modal bagi kita agar ibadah kita diterima oleh Allah. Iman.

Kita sudah memiliki modal iman, tinggal saatnya kita berusaha agar amal kita diterima Allah. Bagaimana caranya?

Berupaya agar amal yang kita kerjakan adalah amal yang benar. Benar sesuai dengan kriteria yang ditetapkan syariat.

Kriteria itu, Allah nyatakan dalam firman-Nya (artinya), Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. al-Kahfi: 110).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh”, maksudnya adalah sesuai dan sejalan dengan syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi `, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap Wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah `.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir, 9/205).

Al-Fudhail bin ‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai firman Allah, “Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2), beliau mengatakan, “Yaitu amalan yang paling ikhlas dan shawab (sesuai dengan ajaran Nabi `).”

Lalu Al Fudhail berkata, “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak sejalan dengan ajaran Nabi `, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau ` namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima. Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan shawab.”

Niat yang ikhlas semata, belumlah cukup untuk membuat amal kita diterima. Semangat, bukan modal utama agar amal kita diterima. Karena kita juga dituntut untuk benar dalam tata caranya.

Sebagai mukmin, kita tentu tidak ingin amal kita ditolak karena salah praktiknya. Kita dalam beramal telah mengeluarkan modal tenaga, waktu, atau bahkan harta. Jangan sampai menjadi batal, karena kita kurang perhatian dengan tata cara beramal.

Karena itu, mari kita menjadi orang yang mencintai sunnah dan berusaha membumikannya. Berusaha menyesuai-kan amal kita dengan sunnah sehingga kita bisa berharap amal kita diterima. Contohlah semangat para ulama dalam meniti sunah, hingga mereka berdoa,

اللَّهُمَّ أَمِتْنَا عَلَى اْلإِسْلَامِ وَعَلَى السُّنَّةِ

“Ya Allah, matikanlah aku di atas Islam dan sunah…”

Rasulullah ` bersabda,“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah ` juga bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”(HR. Muslim).

Dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhahir (lahir). Sebagaimana hadits ‘innamal a’malu bin niyat’ [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin. Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 77).

Di kitab yang sama, Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Suatu amalan tidak akan sempurna (tidak akan diterima, pen) kecuali terpenuhi dua hal:

1. Amalan tersebut secara lahiriyah (zhohir) sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini terdapat dalam hadits ‘Aisyah ‘Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.

2. Amalan tersebut secara batininiyah diniatkan ikhlas mengharapkan wajah Allah. Hal ini terdapat dalam hadits ‘Umar ‘Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat’.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 20).

Semoga Allah l menerima segala amal ibadah kita dan menjauhkan kita dari amal-amal yang sia-sia.

Dari berbagai sumber

Buletin Al-Fikrah No. 27 Tahun XIV 21 Dzulhijjah 1434 H/25 Oktober 2013 M

stiba.ac.id/2013/11/06/amilatun-nashibah-amalan-yang-sia-sia/

Baca Juga  Keutamaan Dan Teknis Puasa Enam Hari Di Bulan Syawal

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini