Berhukum Kepada Syariat Allah

0
59

Berhukum Kepada Syariat Allah

Oleh Ustadz Salahuddin Guntung, Lc. MA. Hafizhahullah

Seseorang tidak dapat dikategorikan sebagai hamba Allah yang beriman secara sempurna sebelum dia menjadikan semua aspek kehidupannya tunduk dan diatur sesuai dengan syariat Allah Azza wa Jalla dan menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai hakim dalam semua perkara kehidupannya.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

فَلاَ وَرَبــِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَـتـَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيـْمـَا شَجَرَ بَيْنــَهُمْ ثـــُمَّ لاَيـَجِدُوْا فِيْ أَنــْفُسِهـِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ وَ يُسَلِّمُوْا تــَسْلِيْمـًا .النساء : 65

Maka demi Tuhanmu mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (An-Nisaa’ : 65)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

أُمِرْتُ أَنْ أُقـــَاتِلَ النــَّاسَ حَتـَّى يَشْهـَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ يـُؤْمِنُوْا بـــِيْ وَ بـــِمَا جــِئــْتُ بِـهِ .رواه مسلم

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, beriman kepadaku dan kepada apa-apa yang aku bawa” (HR. Muslim)

Maka iman seorang hamba tidak akan sempurna kecuali jika beriman kepada Allah dan Rasulnya, rela kepada keputusan-Nya sedikit atau banyak, hanya berhukum kepada syariat-Nya saja dalam segala aspek kehidupannya, baik kehidupan sosial, ekonomi maupun politik serta aspek kehidupan lainya.

Bahkan Allah Azza wa Jalla menganggap orang yang tidak menjadikan syariatnya sebagai penentu hukum sebagai penyembah thagut. Allah berfirman :

أَلَمْ تــَرَ إِلَى الَّذِيْنَ يَزْعُمُوْنَ أَنــــَّـهُمْ ءَ امَنُوْا بِمَا أُنـْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنـْزِلَ مِنْ قَبـْلـِكَ يُرِيْدُوْنَ أَنْ يــَتـَحَاكَمُوْا إِلَى الطَّاغُوْتِ وَ قَدْ أُمِرُوْا أَنْ يَكْفُرُوْا بِـهِ وَيُرِيْدُ الشـَّـيْطَانُ أَنْ يـُضِلَّهُمْ ضَلاَلاًبَعــِيْدًا .النساء : 60

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu?. Mereka hendak berhakim kepada thagut, pada hal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (An-Nisaa : 60)

Al-Imam Ibnu Katsir –rahimahullahu- menegaskan bahwa makna berhakim kepada thagut di dalam ayat ini adalah “Berhakim kepada selain Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, yaitu berhukum kepada kebatilan-kebatilan”. Maka setiap orang yang berhukum kepada selain apa yang dibawa oleh Rasulullah dapat dikategorikan sebagai orang yang berhukum kepada thagut.

Pada hakekatnya berhukum kepada hukum Allah dan meninggalkan serta mengingkari hukum thagut adalah merupakan tuntutan dan konsekwensi logis dari iqrar “Syahadatain” kita bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah Azza wa Jalla yang tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Allah Azza wa Jalla adalah Rabb sembahan manusia yang menciptakan mereka, yang memerintah dan melarang. Yang menghidupkan dan mematikan, yang menyiksa dan memberi pahala. Dan Dialah satu-satunya Tuhan yang berhak untuk disembah dan di ikuti hukumNya. Allah Azza wa Jalla berfirman :

أَلاَ لَهُ الْخــَلْقُ وَ اْلأَمْرُ . الأعراف : 54

Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah”. (Al A’raf : 54)

Maka di samping Dia satu-satunya Pencipta, Dia pulalah satu-satunya yang berhak memerintah yang semua perintah dan hukumNya wajib diikuti dan ditaati.

Jika seseorang telah mengetahui bahwa berhukum kepada syariat Allah Azza wa Jalla merupakan konsekwensi logis dari iqrar “Syahadatain”, maka berhukum kepada thagut (selain hukum Allah) dapat menghilangkan atau mengurangi keimanan kepada Allah. Bahkan tindakan seperti itu merupakan suatu kekufuran, kezhaliman dan kefasikan. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ لَمْ يــَحْكُمْ بــِمَا أَنــْزَلَ اللهُ فَأُوْلَئـِكَ هُمُ الَكَافِرُوْنَ .المائدة : 44

Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (Al Maaidah : 44)

Ayat ini sangat jelas menegaskan bahwa orang-orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah adalah kafir, entah kufur “i’tiqaady” yang mengeluarkannya dari Islam atau kufur “’amaliy” yang tidak sampai mengeluarkannya dari Islam.

As-Syaikh Al-Allaamah Muhammad bin Ibrahim rahimahullah telah menjelaskan hal tersebut secara terperinci dalam kitabnya “Tahkiimul Qawaniin” yang dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Orang yang berhukum kepada selain hukum Allah dikategorikan kafir “i’tiqaady” dan keluar dari Islam dalam kondisi-kondisi berikut:
a. Dia mengingkari kewajiban berhukum kepada hukum Allah dan Rasul-Nya
b. Dia meyakini bahwa hukum selain hukum Allah lebih baik dan lebih lengkap serta lebih cocok dengan kemajuan zaman dari hukum Allah
c. Dia meyakini bahwa hukum Allah dan hukum selain-Nya sama-sama baik dan cocok untuk diterapkan dalam kehidupan manusia
d. Dia tidak meyakini bahwa selain hukum Allah lebih baik dari hukum-Nya atau sama-sama baik, tetapi dia tetap meyakini bolehnya berhukum kepada selain hukum Allah Azza wa Jalla. 2. Orang yang berhukum kepada selain hukum Allah dikategorikan kafir amaliy yang tidak sampai keluar dari Islam, meskipun sesungguhnya itu termasuk dosa yang paling besar adalah orang yang berhukum kepada selain hukum Allah atas dasar hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan lainnya, yang tetap dilandasi dengan keyakinan bahwa hukum Allah lah yang paling benar dan wajib diikuti serta menyalahkan dirinya sendiri dan hukum thagut yang diikutinya.

Adapun kondisi dan hukum orang-orang yang mengikuti orang yang berhukum kepada selain hukum Allah atau dipaksa mengikuti hukum selain hukum Allah, maka mereka terbagi tiga kategori –sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh Abdurrahman Al-Luwaihiq –hafidzahullahu-, dalam kitabnya “Al Ghuluw fi Ad Dien” (294-296) :
1. Orang yang mengikuti orang yang berhukum kepada selain hukum Allah secara sadar tanpa adanya paksaan sedang dia mengetahui bahwa dia telah mengubah hukum Allah dan menggantinya dengan hukum selain hukum Allah dan meyakini kebolehannya, maka orang tersebut dikategorikan sebagai orang yang kafir “i’tiqaady” keluar dari Islam, bahkan dikategorikan oleh Allah sebagai orang musyrik. Allah berfirman yang artinya:
“Mereka menjadikan orang-orang alim mereka, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putra Maryam, pada hal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (At Taubah : 31)
2. Orang yang mengikuti orang yang berhukum kepada hukum selain hukum Allah secara sadar tanpa adanya paksaan sedang dia meyakini bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla, namun karena dorongan hawa nafsu dan kepentingan tertentu maka dia mengikutinya, maka orang tersebut dikategorikan sebagai orang kafir amaliy yang tidak sampai mengeluarkannya dari Islam, hanya dia melakukan dosa besar.
3. Orang yang mengingkari dan membenci diperlakukannya selain hukum dan syariat Allah di muka bumi ini, maka orang yang seperti ini tidak dapat dikategorikan sebagai orang yang berdosa apalagi menjadi kafir. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

يَسْتـَعْمِلُ عَلَيـْكُمْ أُمـَرَاءُ فَتـَعْرِفُوْنَ وَتـُـنْكِرُوْنَ فَمَنْ أَنـْكَرَ فَقَدْ بــَرِئَ وَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتــَابـَعَ . قَالُوْا يـَا رَسُوْلَ اللهِ: أَلآ نــُقَاتِلُهُمْ ؟ فَقَالَ: لاَ مَا صَلُّوْا (رواه مسلم)

Kalian akan dipimpin oleh beberapa orang pemimpin yang kalian senangi (karena kebaikannya) dan kalian ingkari (karena kemungkarannya), orang yang mengingkari sungguh telah lepas dari tanggang jawabnya dan orang yang membencinya pun telah selamat tetapi yang berdosa adalah orang yang mengikuti dan meridhainya” maka para shahabat bertanya; Bolehkah kami memeranginya Ya Rasulullah ? maka Rasulullah menjawab bahwa; “Tidak boleh, selama mereka masih tetap menegakkan shalat”. (HR.Muslim)

Allah juga telah menjelaskan bahwa hukum selain hukum-Nya adalah hukum jahiliyah dan mengancam orang yang menolak hukumnya dengan siksa dan kemurkaan yang ditimpakan-Nya kepada mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَأَنِ حْكُمْ بـَـيْنــَهُمْ بِمَا أَنــْزَلَ اللهُ وَ لاَ تــَـتــَّبِعْ أَهْـوَاءَهُمْ وَ احْذَرْهُمْ أَنْ يـَفْتِنُوْكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنــْزَلَ اللهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تــَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنـــَّمـَا يُرِيْدُ اللهُ أَنْ يـُصِيْبــَهُمْ بـِبَعْضِ ذُنـُوْبــــِهـِمْ وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النـَّاسِ لَفَاسِقُوْنَ أَ فَحُكْمَ الْجَاهِلِيـَّةِ يـَبـْغُوْنَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوْ قــِنُوْنَ .المائدة 49-50

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa meraka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang fasik. Hukum jahiliyahkah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (Al Maaidah : 49-50)

Di dalam ayat ini Allah menegaskan penting dan wajibnya berhukum kepada syariat Allah Azza wa Jalla dengan delapan bentuk penegasan:
1. Perintah untuk berhukum kepada hukum Allah.
2. Larangan mengikuti hawa nafsu manusia yang menghalangi kita berhukum kepada hukum Allah.
3. Larangan keras dari meninggalkan syariat Allah sebagai pedoman hukum.
4. Berpaling dari hukum Allah dan menolak sebagian daripadanya adalah merupakan dosa besar yang mendatangkan siksa yang sangat pedih.
5. Peringatan agar tidak terpedaya oleh banyaknya orang yang menolak hukum Allah.
6. Status hukum selain hukum Allah adalah hukum jahiliyah.
7. Penegasan bahwa hukum Allah adalah sebaik-baik hukum dan seadil-adilnya.
8. Meyakini bahwa hukum Allah adalah hukum yang paling adil dan paling sempurna adalah bahagian dari aqidah orang-orang yang yakin dan beriman kepada Allah.

-Sholahuddin Guntung, Lc-

(Al Fikrah Tahun 1 Edisi 6)

Sumber dari: https://wahdah.or.id/syariat-allah/

Baca Juga  Hilangnya Rasa Malu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini