Berlomba Dalam Kebaikan

0
74

Berlomba Dalam Kebaikan

Buletin-al-Fikrah

Suatu hari, Umar radhiyallahu ‘anhu mengawasi Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di waktu fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat itu Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat Subuh. Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan Abu Bakar di sana.Umar mengetahui segala kebaikan yang dilakukan Abu Bakar kecuali rahasia urusan gubuk tersebut.

Hari-hari terus berjalan, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota. Umar masih berada dalam kepenasarannya. Sampai akhirnya Umar radhiyallahu ‘anhu memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk kecil itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya.

Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapatkan seorang nenek tua yang lemah dan tidak bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Umar tercengang dengan apa yang dilihatnya, dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu.

Umarpun bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu di sini?” Nenek menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengetahui, wahai anakku. Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makanan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku.”Kemudian Umar menekuk kedua lututnya dan kedua matanya basah oleh air mata. Dia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Sungguh, engkau telah membuat sulit khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar.”

Tidakkah kita teringat dengan istana di surga yang begitu indah yang pernah mengejutkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam lalu kemudian beliau bertanya kepada malaikat Jibril, “ Istana ini milik siapa? Malaikat lalu menjawab, Istana ini milik Umar bin Khattab radiyallahu anhu. Tapi bersamaan dengan itu Umar tetap gigih dan ingin melampaui Abu Bakar dalam mengerjakan kebaikan. Itulah sahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan, mereka menangis bukan karena dunia dan bukan pula karena wanita. Tapi karena mereka kalah dalam persaingan mendapatkan kebaikan.

Andai saja Umar ada pada zaman kita, maka yakinlah bahwa tidak ada yang mampu menandingi beliau dalam berbuat kebaikan, dan beliau akan terheran-heran dengan keadaan yang beliau saksikan, Karena sebagian kaum muslimin saat ini tidak peduli dengan kebaikan. Jangankan berlomba-lomba, melaksanakannya saja susah bagi mereka. Bahkan diantara mereka ada yang berlomba-lomba dalam keburukan. Waliyaudzubillah.

Ingatlah ketika Allah berfirman (artinya),“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al Muthoffifin: 26). Artinya, untuk meraih berbagai nikmat di surga, seharusnya setiap orang berlomba-lomba. Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah menerangkan, “Para sahabat memahami bahwa mereka harus saling berlomba untuk meraih kemuliaan di surga. Mereka berusaha menjadi terdepan untuk menggapai derajat yang mulia tersebut. Karena itu, jika di antara mereka melihat orang lain mendahului mereka dalam beramal, mereka pun bersedih karena telah kalah dalam hal itu. Inilah bukti bahwa mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan.”

Para pembaca sekalian. Mari menjadikan para salafussholeh sebagai cerminan bagi kehidupan kita sehari-hari baik itu dalam beramal, bergaul dan dalam segala hal. Mari berlomba sebagaimana mereka berlomba dalam kebaikan. Tidakkah kita teringat dengan perkataan al-Hasan al-Bashri rahimahullah,“Jika engkau melihat orang lain mengunggulimu dalam hal dunia, maka kalahkanlah ia dalam hal akhirat.”

Jangan mau kalah dengan mereka yang selalu berlomba-lomba. Kalau mereka berlomba mari kita juga berlomba, mereka manusia biasa kitapun sama. Mari mendahului mereka yang selalu berada di shof terdepan dalam mengerjakan kebaikan.Kalau mereka menanam sejuta kebaikan maka mari kita merancang untuk menanam dua juta kebaikan. Bercermin dari Masa Lalu Dahulu, awal ketika kita mendapatkan hidayah kita kadang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Tapi ketika waktu semakin berlalu, semangat semakin menurun tanpa kita sadari. Lalu kemudian waktu itu terus berjalan dan tidak peduli apa yang terjadi setelah kepergiannya, sementara kita masih berada dalam keadaan yang sama.

Menginginkan kebaikan di masa depan adalah suatu hal yang wajar. Untuk menjadi yang terbaik dan yang lebih baik itupun wajar, karena begitulah tabi’at manusia selalu menginginkan yang terbaik. Keinginan yang baik tanpa ada usaha, bagaikan orang yang lapar memandang makanan. Ia tidak akan pernah kenyang sampai kapanpun kalau makanan cuma ditatap tak dinikmati. Begitupula dengan keinginan yang tidak dibarengi dengan usaha, jangan berharap keinginan itu akan terwujudkan. Kadang kita buntu dan tidak berpikir, bahwa ibadah kita ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ibadah para salafussholeh. Ketika kita menengok dan menelaah kisah-kisah mereka, maka kita akan berada di barisan paling belakang.

Sungguh telah merugi kebanyakan orang pada saat ini, masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk berlomba mendapatkan kebaikan. Tapi ia tidak memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Bersamaan dengan itu ia tidak merasa rugi dan biasa-biasa saja, tak ada rasa sedih dan gelisah karena melewati hari-harinya tanpa tambahan amalan soleh. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Sungguh aku telah merasa rugi jikalau matahari terbenam sementara amalanku tidak bertambah.” Para sahabat adalah generasi terbaik setelah Rasulullah sallallahu alihi wasallam tapi mereka masih merasa rugi kalau hari-harinya berlalu tanpa ada tambahan dari amalan soleh. Mereka adalah orang-orang yang dijamin surga oleh Allah tapi dengan itu mereka masih berlomba-lomba dalam mendapatkan pahala di sisi Allah Subhanhu wa Ta’ala. Sementara kita yang tidak mengetahui di mana kita akan ditempatkan setelah meninggal dunia, di surga atau di neraka masih sempat bermaksiat kepada Allah Subhanhu wa Ta’ala.

Dari Abu Dzar radiyallahu anhu berkata,“Sesungguhnya orang-orang dari shahabat Rasulullah r telah berkata kepada Nabisallallahu alaihi wasallam,“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya pergi dengan membawa pahala yang besar. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka….” (HR. Muslim) Hadits ini menunjukkan bagaimana mereka datang kepada Rasulullah karena menyaksikan sahabat-sahabat yang lain banyak mengerjakan kabaikan, namun kebaikan itu tidak bisa mereka kerjakan karena terhalangi oleh materi. Mereka semangat dan takut terkalahkan dalam segala kebaikan, kalau mereka mampu untuk mengerjakannya maka mereka tidak akan menunda-nundanya untuk dikerjakan di kemudian hari. “Jika engkau berada di sore hari maka janganlah engkau menunggu datangnya waktu pagi. Dan jika engkau berada diwaktu pagi janganlah menunggu datangnya waktu sore.” Karena ada banyak amalan di waktu sore yang tidak diterima jika diamalkan diwaktu pagi dan ada pula amalan pagi tidak diterima jika di amalkan di waktu sore.Mari menjadikan hari ini dan hari esok lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

Sebagian penuntut ilmu syar’i tidak mau berlomba-lomba dalam mendapatkan kebaikan, mereka selalu merasa cukup dengan apa yang mereka dapatkan, shalat berjamaah yang penting berjamaah, mereka tahu tapi tidak mau. Bukankah Allah telah memerintahkan kita untuk meminta surga-Nya yang paling tinggi? Mari kita perhatikan mereka yang selalu berada di shof awal ketika sholat berjamaah, apa yang mereka perbuat sehingga bisa menduduki majelis terdepan. Mari kita menjadikan mereka sebagai qudwatun hasanah (contoh yang baik) dalam hal tersebut.

Ini adalah salah satu contoh Shof awal dalam shalat berjamaah, kadang tidak merasa sedih bagi orang yang terlambat dan tidak mendapatkannya. Terlambat shalat berjamaah biasa-biasa saja, Tak ada masalah yang pentingkan shalat. Sebagian kita hari ini tidak peduli dengan hal tersebut, padahal disisi salafussholeh ini adalah salah satu hal yang perlu untuk selalu kita hidupkan.

Renungilah perkataan Wuhaib bin Al-Ward rahimahullah, “Jika engkau mampu tidak ada yang bisa mengalahkanmu dalam hal akhirat, maka lakukanlah.” Bermalas-malasan dalam berkompetisi untuk mendapatkan kebaikan bagi orang awam itu wajar dan biasa, karena mereka memang tidak tahu. Tapi yang luar biasa adalah di sisi para penuntut ilmu. Mereka banyak mengetahui kemuliaan-kemuliaan ibadah yang disebutkan dalam Al-Qur’an begitupun dalam hadits-hadits Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Tapi mereka sedikit beramal.Harusnya mereka semangat dalam beramal karena ilmu sudah mereka miliki.

Mari mengoreksi diri pribadi sebelum kita yang dikoreksi di hadapan Allah Azza wa Jalla Allah berfirman (artinya), “Dan berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan.”(QS. Al-Baqarah:148). Ketika diajukan pertanyaan, apakah kalian mau masuk surga? Semua pun mengatakan ya. Tapi sayang seribu sayang yang ada cuma omongan tanpa usaha. Mereka bagaikan manusia yang ingin mengambil sebuah perahu di tengah lautan. Namun ia hanya di pinggiran tanpa usaha. Perumpamaan ini sama halnya dengan orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak berusaha. Orang saleh pernah berkata, “Aku heran dengan orang yang menginginkan surga tapi ia hanya tidur. Dan aku heran dengan orang yang takut akan neraka tapi ia hanya tidur dan tidak berusaha (menghindarinya).” Wallahu a’lam bishshowab.

Ahmad Nasing Sumber Buletin al-Fikrah edisi 06 tahun XV

https://stiba.ac.id/2014/05/01/berlomba-dalam-kebaikan/

Baca Juga  Memilih Jalan Hidup

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini