Generasi Tangguh Lahir dari Masjid

0
46

Generasi Tangguh Lahir dari Masjid

Buletin-al-Fikrah

Taklim Subuh Ustadz Dr. Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A. Hafizhahullah

Jauh sebelum Islam berkembang menjadi agama yang menguasai peradaban pada zaman Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah lahir para nabi dan rasul yang mendahuluinya. Pada periode ini pula telah dibangun sebuah masjid pertama kali di dunia, yaitu Masjidil Haram pada zaman Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

”Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran(3): 96). Dalil ini adalah bantahan Allah terhadap Ahli Kitab yang mengatakan bahwa rumah ibadah yang pertama dibangun berada di Baitul Maqdis.

Pada perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun Masjid Quba. Sejak pertama kali tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun Masjid Quba. Sejak pertama kali tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun Masjid Nabawi yakni di tempat unta tunggangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan perjalanannya. Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara, Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dibangunkan masjid sebagai institusi pertama dan tempat kediaman beliau.

Fungsi masjid di masa Rasulullah shallallahu ‘alaih wasallam dan para sahabatnya:

  1. Masjid merupakan markaz perjuangan

Dari masjidlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mentarbiyah para pejuang. Di sanalah beliau mendidik para sahabat untuk menyebarluaskan dakwah. Mengajarkan Ad-Dien dan segala sesuatu, tempat dan markaznya adalah masjid.

  1. Masjid dijadikan sebagai tempat latihan perang

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan orang-orang Habasyah bermain dengan tombak-tombak mereka. Dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang diriwayatkan oleh dua Imam di atas, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupiku dengan kainnya sementara aku melihat orang-orang Habasyah bermain di masjid.”  Al-Hafizh Ibnu Hajar (Fathul Bari, 1/549) berkata, “Bermain dengan tombak bukan sekadar bermain, akan tetapi ia melatih para pemberani menghadapi titik-titik peperangan dan bersiap siaga menghadapi musuh.”

  1. Masjid sebagai balai pengobatan tentara muslim yang terluka

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, Saad bin Muadz zterkena anak panah pada urat lengannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuatkan sebuah tenda untuknya di masjid agar bisa menjenguknya dalam waktu dekat, di masjid juga terdapat tenda milik Bani Ghifar,  mereka terkejut ketika darah mengalir kepada mereka, mereka berkata, “Wahai penghuni tenda, apa yang datang kepada kami dari kalian ini?” Ternyata luka Saad z mengalirkan darah dan dia gugur karenanya.” (HR. Al-Bukhari).

  1. Masjid sebagai pusat kepentingan sosial kemasyarakatan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan masjid digunakan sebagai tempat berlindung orang-orang miskin yang tidak mempunyai tempat tinggal. Di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal orang-orang miskin yang dikenal dengan ‘ahli shuffah’, mereka ini adalah para tamu yang tidak berharta, tidak berkeluarga dan tidak seorang pun yang memberi tumpangan tempat tinggal, tempat ini juga ditinggali oleh para sahabat miskin yang tidak memiliki rumah.

  1. Masjid sebagai pusat pendidikan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah, mereka membaca kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka dan para malaikat mengelilingi mereka, serta Allah menyebut mereka kepada para malaikat yang berada di sisiNya.” (HR. Muslim).

  1. Masjid sebagai tempat penyelesaian sengketa

Masyarakat memiliki beragam problematika dan dalam interaksi sehari-hari di antara mereka mungkin terjadi perselisihan yang harus diselesaikan, karena jika tidak maka ia bisa menjadi konflik di tengah-tengah masyarakat. Maka seorang imam masjid atau seorang ustadz seharusnya bisa menjadi pengurai persoalan tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan masalah Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang menagih hutang kepada Ibnu Abu Hadrad di masjid. Imam al-Bukhari rahimahullah menulis sebuah bab di dalam shahihnya, beliau berkata, “Bab man Qadha wa La’ana fi al-Masjid.” Beliau juga menulis bab, “Bab man Hakama fi al-Masjid.” Lalu beliau menurunkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu tentang kedatangan Maiz yang mengaku telah berzina pada saat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sedang di masjid.

  1. Masjid sebagai tempat menerima tamu

Ketika utusan kaum Tsaqif datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menyuruh sahabatnya untuk membuat kemah sebagai tempat penjamuan mereka di sudut masjid. Selain itu, masjid juga sebagai tempat penahanan tawanan perang. Tsumamah bin Utsalah, seorang tawanan perang dari Bani Hanifah diikat di salah satu tiang masjid sebelum perkaranya diputuskan. (HR. Al-Bukhari).

Kondisi Masjid Saat Ini

Hari ini, sebagian besar masjid hanya difungsikan sebagai tempat pelaksanakan salat lima kali sehari semalam. Bahkan, ada sebagian masjid yang muadzinnya adzan sebelum membuka masjid. Jadi masjid baru dibuka ketika menjelang adzan dan ditutup setelah itu. Tak boleh berlama-lama di masjid.

Ada masjid yang dibangun sedemikian megah, salat lima kali sehari semalam ditegakkan di dalamnya, namun jamaahnya hanya segelintir. Bahkan, ada muadzin merangkap imam sekaligus makmum. Lebih memilukan lagi, ada masjid yang dibangun tapi di dalamnya tak ditegakkan salat lima waktu sama sekali. Allahul Musta’an. Ini di antara hal yang menyebabkan kelemahan ummat Islam.

Di antara realitas umat saat ini adalah sulitnya ditemukan pemuda yang hatinya tertaut pada masjid. Kebanyakan generasi muda hari ini terbius dengan artis. Diskotik, konser musik, dan apa pun tempat kemaksiatan yang lain hanya akan melahirkan generasi pecundang yang cengeng. Pejuang tidak akan lahir dari sana. Dari masjidlah pejuang itu akan lahir. Ya, pemuda yang mencintai masjid.

Di masjid itulah lahir rijaal (lelaki yang sabar dan tangguh), makanya ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. An-Nur: 36).

Siapakah mereka yang bertasbih yang disebutkan dalam ayat di atas? Merekalah para rijaal, sebagaimana disebutkan dalam ayat selanjutnya, “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan salat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”

Di situlah ada rijaal, kader-kader Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memperjuangkan agama Allah ‘Azza wa Jalla. Di dalam masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. At-Taubah: 108).

Allah Subhanahu wa Ta’ala sering menyebut orang-orang yang ada di masjid itu sebagai rijaalRijaal yang memang tangguh, yang diharapkan untuk memperjuangkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala . Tidak akan mungkin rijaal/para pejuang lahir jika mereka bukan orang yang cinta kepada masjid. Jadi, di masjid inilah kita ditempa untuk memiliki mental sebagai seorang pejuang. Maka ketika masjid fungsinya tidak dimaksimalkan, inilah di antara penyebab utama yang menjadikan lemahnya umat Islam.

Sumber: Resume salah satu taklim Subuh Ustadz Muhammad Yusran Anshar, Lc., M.A. di Masjid al-Ihsan STIBA Makassar

Abu Abdillah ’Ibn Husain

stiba.ac.id/2015/11/30/generasi-tangguh-lahir-dari-masjid/

Baca Juga  PEMUDA DALAM DEKAPAN ISLAM

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini