Mahkota Ulama

0
67

Mahkota Ulama

Buletin-al-Fikrah

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu“Berlapang-lapanglah dalam majelis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Mujadilah : 11).

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkat para ulama ke derajat yang Dia lebihkan atas selain mereka. Para ulama adalah orang-orang yang telah Allah pilih untuk lebih mengenal Allah, mengenal ajaran-Nya. Itu semua karena mereka mengamalkan ilmu mereka dengan benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan Balasan ketaqwaannya.” (QS. Muhammad : 17)

Para ulama juga adalah orang-orang yang diajari oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ketakwaan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 282)

Dengan keberadaan para ulama maka manusia hidup dalam lentera ilmu dan jauh dari gelapnya kebodohan. Dengan memainkan peran para Nabi, ulama memikul estafet risalah islam di atas pundak-pundak mereka. Rasulullah r bersabda, “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar juga dirham, hanya saja mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambilnya maka telah mengambil bagian yang besar.” (HR. Abu Dawud dalam As-Sunan 4/57, Tirmidzi 5/48, dan Ibnu Majah 1/81).

Para ulama adalah orang-orang yang dimuliakan oleh Allah I, maka sudah sepantasnya sebagai penuntut ilmu menjaga adab-adab kepada mereka. Sejarah mencatat bahwa para salaf sangat memperhatikan masalah ini, diantaranya:

Adalah Abdullah bin Al-Mubarak (w.181 H) pernah menyatakan, “Hampir-hampir adab menjadi dua pertiga ilmu.” (Ibnul Jauzi dalam Shifah As-Shahwah 4/120).

Muhammad bin Sirin (w.110) mengatakan, “Dahulu para salaf mempelajari al-huda (adab) sebagaimana mereka mempelajari ilmu.” (Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rawi Adab As-Sami’)

Yahya bin Muhammad Al-Anbari (w.344 H) berkata, “Ilmu tanpa adab bagai api tanpa kayu, dan adab tanpa ilmu bagai jasad tanpa ruh.” (Al-Baghdadi dalam Syarf Ashab Al-Hadits Hal 122).

Luar biasa! Perhatian para ulama mengenai hal ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Jika ilmu adalah satu sisi mata uang maka adab adalah sisi mata uang yang lain. Jika satu sisi ini hilang maka uang tersebut tidak berlaku. Nah, berikut adalah beberapa adab-adab kepada para ulama:

  1. Ber-mulazamah

Dengan senantiasa menghadiri majelis ilmu mereka dan mengambil adab serta ilmu yang tercurah darinya. “Sambil menyelam minum air”, tukas pribahasa Indonesia. Abu Darda t berkata, “Termasuk kefakihan seseorang yakni ketika ia mengetahui kapan ia berjalan, masuk dan keluar bersama ahli ilmu.” (Jami’ Bayan Al-Ilm wa Fadhlih, 1/127). Dengan ber-mulazamah kepada ulama seseorang mendapatkan ilmu yang lebih praktis dan mudah dipahami, para ulama telah mencurahkan energi dan waktu mereka untuk menyelami ranah ilmu yang sangat luas dan dalam, maka dengan ber-mulazamah kita bisa banyak mengambil banyak benang merah dari ilmu yang luas tersebut. Bayangkan betapa beratnya jika seseorang harus mengambil sari dari kitab-kitab yang tebal, lalu bandingkan dengan orang-orang yang betah duduk di majelis ilmu.

Hendaknya seorang penuntut ilmu memperhatikan betapa besar peran mulazamah ini dalam meningkatkan ilmunya, tidak sekedar mencukupkan diri dengan membaca kitab-kitab saja. “Barang siapa yang dalil-nya adalah kitabnya maka salahnya lebih banyak dari benarnya”, begitu kata sebagian ulama. Namun Syaikh Al-Utsaimin pernah mengomentari perkataan ini, menurut beliau bahwa perkataan ini tidak sepenuhnya benar dan tidak juga salah. Beliau berkata, “Adapun orang yang mengambil ilmu dari setiap buku yang ia lihat maka sudah pasti lebih banyak salahnya. Dan orang yang bertumpu pada buku-buku para ulama terkenal akan sifat ilmiah, amanah dan tsiqah, maka yang demikian kesalahannya tidak terlalu banyak bahkan banyak benarnya.” (Kitab Al-Ilm)

  1. Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu

Hendaknya seorang penuntut ilmu menghadirkan jasad, hati, dan pikiran ketika proses transfer ilmu. Jangan sampai seorang penuntut ilmu disibukkan oleh hal-hal yang tidak penting. Hati-hati memilih teman duduk, jangan sampai membuat majelis di dalam majelis. Diriwayatkan bahwa Al-Hasan bin Ali Radiyallahu ‘anhuma pernah memberi wejangan kepada anak beliau, “Wahai anakku, Jika engkau duduk di majelis para ulama maka jadilah tamak untuk mendengar daripada berbicara! Belajarlah diam yang indah! Jangan pernah memotong satupun perkataannya walau beliau berpanjang lebar sampai beliau mencukupkannya!” (Jami’ Bayan Al-Ilm wa Fadhlihi, 1/130)

  1. Sabar

Para ulama adalah manusia yang memiliki berbagai macam tabiat. Ada yang lembut, lugas, tegas, pemarah dan lain-lain sebagaimana umumnya manusia.Kesabaran penuntut ilmu ketika menyertai gurunya adalah syarat wajib yang harus dipenuhi demi mendapatkan ilmu. Dikisahkan bahwa Al-‘Amasy adalah seorang yang memiliki kebiasaan meludah ke arah kiri ketika berbicara di dalam majelis, namun beberapa murid beliau tidak ada yang sangsi untuk duduk di sisi kiri beliau, menimba ilmu dan bersabar dengan konsekuensi duduk di tempat tersebut.

Seorang penuntut ilmu yang bersabar di dalam menghadapi kesulitan dalam menuntut ilmu secara umum akan mendapatkan dua hal: 1) Pahala orang-orang yang bersabar; 2) Mendapatkan hasil/akibat di sisi Allah. “Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad);tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Qs. Hud : 49)

  1. Tawadhu’

Yakni dengan senantiasa memposisiskan diri sebagai murid yang membutuhkan ilmu. Laksana kecambah kecil yang butuh sinar matahari. Walaupun ilmu yang disampaikan sudah pernah didengarkan sebelumnya, jadilah seperti murid baru yang hadir di hari pertama sekolah. Atha’ bin Abi Rabah (w.114) rahimahullah berkata, “Sesungguhnya saya pernah mendengarkan hadits dari seorang laki-laki padahal saya lebih mengetahui hadits tersebut namun saya perlihatkan kepadanya seakan-akan saya tidak mengetahuinya sama sekali.” (Abu Nua’im dalam Al-Hilyah 3/311 biografi Atha’ bin Abi Rabah rahimahullah). Benarlah sabda Nabi r, “Dan barang siapa tawadhu’ karena Allah maka Allah akan mengangkatnya.” (HR. Muslim No. 2588). Allah subhanahu wa ta’ala mengekalkan nama mereka pada hari ini.

Allah berfirman, “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Qashash : 83).

  1. Bertanya

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya tentang kunci sukses beliau dalam menuntut ilmu, maka beliau berkata, “Dengan lisan yang senantiasa bertanya, dan hati yang senantiasa berpikir.”

Hendaknya seorang penuntut ilmu memanfaatkan keberadaannya bersama sang ulama dengan sebaik-baiknya. Malu bertanya adalah penghalang turunnya ilmu. Dan sebaliknya juga demikian, sombong membuat seseorang enggan bertanya karena merasa sudah tahu. Pertanyaan yang diajukan juga harus berbobot dan memang diperlukan. Hendaklah seindah mungkin dalam bertanya. Tidak menanyakan sesuatu yang tidak terjadi. Yang paling penting tidak mengadakan ujian untuk gurunya. Maksudnya adalah tidak menanyakan sesuatu yang sudah diketahui untuk menguji ilmu sang guru.

  1. Memuliakan para ulama

Hendaknya seorang penuntut ilmu mengagungkan kedudukan para ulama. Membela kehormatan mereka ketika ada yang mencela. Jika tidak memiliki kesanggupan untuk itu maka hendaknya ia meninggalkan majelis ghibah tersebut. Jika sang ulama memiliki kesalahan maka haram baginya untuk menyebarkannya kepada manusia.

Bayangkanlah! Betapa beratnya ganjaran orang yang menggunjing dan membongkar aib seorang muslim, apalagi yang digunjing adalah ulama. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12).

Imam Ibnu Asakir rahimahullah (w. 571) berkata, “Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah memberi taufik kepadaku dan engkau dalam ridha-Nya dan menjadikan kita termasuk orang yang takut pada-Nya- bahwasanya daging para ulama itu berbisa, dan kebiasaan Allah dalam menyingkap para pencela mereka (ulama’) telah diketahui bersama. Barang siapa mencela mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada mereka, maka Allah memberinya bencana berupa hati yang mati.” (Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ 1/589). Mengerikan bukan? Oleh itu mari menahan lisan dari aib para ulama.

Di sisi lain apabila aib ulama diumbar di hadapan masyarakat, maka wibawa sang ulama akan jatuh. Akhirnya dakwah sang ulama tidak lagi efektif dan diterima walau perkataannya benar. Allahul Musta’an.

Demikianlah segelintir adab-adab penuntut ilmu kepada para ulama. Sudah pasti berhias dengan adab menjadikan seseorang semakin diberkahi dalam ilmunya. Allah yang telah menganugerahkan mahkota ilmu kepada para Ulama, membuatnya bersinar terang. Menembus ruang dan waktu. Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk beradab di hadapan mereka.

(Muhammad Ibrahim)

stiba.ac.id/2014/04/29/mahkota-ulama/

Baca Juga  Zhahir Nas Al-Quran dan Sunnah Menurut Imam Asy-Syafi’i

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini