Membela Hak Kaum Lemah

0
44

Membela Hak Kaum Lemah

Buletin-al-Fikrah

Allah ldengan hikmah-Nya telah menciptakan manusia berbeda-beda status sosialnya. Ada yang menjadi pemimpin, ada pula yang dipimpin. Sebagian ditakdirkan kaya, sebagiannya lagi ditakdirkan miskin. Bahkan ada yang menjadi budak sahaya dan ada pula yang merdeka. Semuanya dijadikan sebagai ujian bagi hamba-Nya.

Sebagaimana firman-Nya, “Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain, maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabb kalian Mahamelihat.” (QS. al-Furqan: 20).

Juga firman-Nya (artinya), “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”(QS. az-Zukhruf: 32).

Manusia sebagai makhluk sosial tentunya tidak bisa lepas dari ketergantungan dengan orang lain. Orang kaya tidak akan terpenuhi kebutuhannya dengan baik tanpa bantuan orang miskin. Pemerintah tidak akan bisa mewujudkan berbagai program secara sempurna  bila tidak mendapat dukungan dari rakyat. Oleh karenanya, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, antara pemerintah dan rakyat biasa harus segera dikubur, dengan ini akan terwujud kehidupan yang dinamis, di mana masing-masing tahu peranannya agar tercapai kemaslahatan bersama.

KEMULIAAN DENGAN KETAKWAAN

Bila kita mau melihat masyarakat yang dipimpin oleh Nabi Muhammad `, yaitu para sahabat F, maka kita dapatkan mereka berasal dari negeri yang berbeda-beda dan status sosial yang tidak sama. Ada di antara mereka yang dari Arab, Romawi, Habasyah, dan orang-orang Persia. Ada dari keluarga terpandang seperti dari qabilah Quraisy, ada pula dari budak sahaya. Ada yang kaya raya seperti Utsman bin Affan E, ada pula yang miskin seperti Abu Hurairah E.

Keanekaragaman tidak menjadi soal manakala prinsip dalam beragama itu sama. Mereka berbaur satu sama lain untuk bersama-sama memperjuangkan agama Allah. Kecintaan mereka terhadap saudara-saudaranya yang seiman melebihi kecintaan mereka terhadap karib kerabat mereka yang tidak beriman. Bahkan mereka berlepas diri dari keluarga mereka yang tidak beriman. Allah berfirman (artinya), “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.”(QS. al-hujurat: 13).

Timbangan kemuliaan di sisi Allah, Zat yang mencipta, mengatur alam semesta dan yang berhak diibadahi adalah ketakwaan. Maka, barangsiapa yang bertakwa dengan mengerjakan perintah-perintah Allah ldan menjauhi larangan-Nya dia itulah orang yang mulia dalam timbangan Islam. Meski orang-orang menganggapnya sebagai orang yang rendah.

Tatkala sahabat Abu Dzar al-Ghifari mencela Bilal c karena ibunya bukan berasal dari negeri Arab, Nabi `marah kepada Abu Dzar dengan mengatakan, “Sesungguhnya di dalam dirimu masih tersisa perangai atau sifat orang jahiliyah.” (HR. Bukhari no. 6050).

Lantas Abu Dzar sadar akan kesalahannya tersebut. Ketakwaan pulalah yang mengangkat sahabat Bilal Eyang dahulunya budak sahaya menjadi salah satu muadzin Rasulullah `yang sangat terkenal. Bahkan tatkala penaklukan kota Mekkah, Nabi `memerintahkan Bilal Enaik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan. Suatu hal yang mencengangkan para pembesar Quraisy kala itu. (Zadul Ma’ad, 3/361).

JANGAN MENDZALIMI YANG LEMAH

Kedzaliman dalam bentuk apapun dan terhadap siapa pun adalah kejahatan yang perilakunya berhak mendapatkan hukuman di dunia sebelum hukuman di akhirat kelak. Sahabat Abu Bakrah Emeriwayatkan hadits Nabi `“Tiada suatu dosa yang lebih pantas Allah segerakan hukuman bagi pelakunya di dunia, di samping adzab yang Allah sediakan untuknya di akhirat daripada kedzaliman dan memutuskan silaturrahim.” (HR. Ahmad, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad).

ORANG LEMAH HARUS DIPERHATIKAN HAKNYA

Di antara orang-orang lemah yang harus diperhatikan haknya adalah sebagai berikut:

1.           Anak Yatim

Yaitu anak yang di tinggal mati oleh ayahnya dan dia belum baligh. Di saat seorang anak sangat membutuhkan belaian kasih sayang orang tuanya, ternyata ia harus mengalami kenyataan pahit seperti ini.

Rasulullah `bersabda, “Saya bersama dengan orang yang mengurusi anak yatim di surga seperti keduanya ini—Nabi `mengisyaratkan dengan jari telunjuknya dan jari tengahnya dengan merenggangkan keduanya.” (HR. Al-Bukhari).

Demikian balasan mulia bagi orang yang menyantuni anak yatim. Namun sebaliknya, orang yang tidak menyayangi anak yatim dan menelantarkannya, atau bahkan memakan harta anak yatim, dia diancam dengan adzab yang pedih.

2.           Janda dan Orang Miskin

Wanita yang ditinggal mati suaminya pada umumnya sangat membutuhkan uluran tangan. Bagaimana tidak? Kini orang yang bisa mencari nafkah untuknya telah tiada. Beban kehidupannya semakin bertambah. Hal seperti ini tentunya mengetuk hati orang yang memiliki kelebihan rezeki untuk menginfakkannya.

Demikian pula orang miskin yang tidak memiliki sesuatu untuk mencukupi kebutuhan dirinya beserta anak dan istrinya, maka seharusnya pulalah kita membantunya. Rasulullah `bersabda, “Orang yang bekerja untuk mencukupi para janda dan orang miskin seperti orang yang berjuang di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3.           Anak

Anak merupakan buah hati seorang dan penerus generasi di masa mendatang. Kiranya suatu kedzaliman yang besar manakala seseorang tidak memenuhi hak mereka. Hak anak tidak hanya pada pemberian nafkah berupa makanan, pakaian, dan semisalnya. Bahkan ada hak yang sering diabaikan, yaitu hak pendidikan agama yang memadai.

Tunaikanlah hak-hak seorang anak, berilah mereka kasih sayang yang cukup dan berlaku adillah kepada mereka. Ketika Nabi ` tahu ada seorang sahabat memberikan suatu pemberian kepada seorang anaknya namun anak yang lain tidak diberi, beliau `marah dan mengatakan, “Bertakwalah kalian kepada Allah dan berbuat adillah terhadap anak-anak kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).

4.           Kaum wanita

Ketika haji Wada’ yang dihadiri oleh puluhan ribu manusia dari berbagai daerah, Rasulullah `memberikan pesan terakhir sebelum wafatnya. Di antara pesan-pesan tersebut adalah keharusan untuk berbuat baik kepada kaum wanita. Para wanita di dalam Islam memiliki posisi yang penting yang tidak bisa diabaikan. Mereka membantu laki-laki dalam tercapainya kemaslahatan duniawi dan ukhrawi.

Orang yang terbaik adalah yang terbaik terhadap istrinya dan orang yang jelek adalah orang yang tidak berbuat baik terhadap para wanita. Allah ltelah memerintahkan untuk mempergauli wanita dengan baik sebagaimana firman-Nya, “Dan pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An-Nisa’: 19).

5.           Rakyat jelata

Merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk memberikan hak-hak rakyat, dengan menebarkan perasaan aman dan nyaman, menjunjung tinggi keadilan, serta menindak orang-orang yang jahat. Kekuasaan merupakan amanah untuk mewujudkan kemashlahatan dalam perkara agama dan dunia. Sehingga manakala pemerintah menyia-nyiakan hak rakyatnya dan tidak peduli terhadap tugasnya, maka kesengsaraan dan adzab telah menunggu mereka.

Rasulullah `bersabda, “Tiada seorang hamba yang diserahkan kepadanya kepemimpinan terhadap rakyat, lalu dia mati dalam keadaan berkhianat kepada rakyatnya, kecuali Allah haramkan surga baginya.” (Muttafaqun alahi).

Semoga Allah lmemberikan kita petunjuk agar mampu menjaga hak-hak seluruh umat manusia. Sehingga perasaan aman dan nyaman serta ruh kecintaan benar-benar menebar dalam kehidupan ini.

Wallahu A’lam(dari berbagai sumber).

stiba.ac.id/2013/06/08/membela-hak-kaum-lemah/

Baca Juga  PEMUDA DALAM DEKAPAN ISLAM

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini