PEMUDA DALAM DEKAPAN ISLAM

0
58

PEMUDA DALAM DEKAPAN ISLAM

Buletin-al-Fikrah

Bicara tentang remaja (pemuda), maka kita akan dihadapkan kepada sebuah pemandangan ironis. Sebuah generasi yang menjadi tumpuan masa depan kehidupan manusia yang mestinya tampil menjadi pengusung kebaikan. Tapi, bagaimana kenyataannya? Hari ini, mayoritas generasi muda terperosok dalam lumpur budaya menyesatkan. Terlena dengan berbagai tradisi yang jauh dari—bahkan bertentangan dengan—ajaran Islam.

Hura-hura, pergaulan bebas antar lawan jenis, hingga meremehkan bahkan melupakan kewajiban-kewajiban agama, menjadi warna yang melekat pada potret jati diri remaja sekarang. Memang, dalam kondisi yang demikian parah, masih tersisa sejumlah remaja yang teguh memegang prinsip keislaman, sehingga setidaknya mampu menjaga diri dari pengaruh budaya tercela di atas. Tetapi, jumlah mereka terlalu sedikit bila dibandingkan dengan kelompok pemuda yang melalaikan hak Penciptanya.

Sementara di sisi lain, sikap lingkungan yang kurang memerhatikan mereka, seolah menjadi pelengkap keprihatinan kita. Termasuk di antaranya para orang tua dan kalangan pendidik (guru) yang seharusnya bertanggungjawab atas kondisi mereka, tak jarang ada di antara mereka beralih fungsi menjadi hakim yang memvonis mereka dengan sederet tuduhan. Mereka dianggap tak memiliki fitrah, tak beragama, dan sama sekali tak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Realitas seperti inilah yang membuat kami kembali ingin menulis risalah mengenai pemuda ini, karena memang kita selalu rindu akan adanya kembali pemuda-pemuda dalam dekapan Islam yang berani untuk membela teguh ajaran agama Allah ini. Di dalam risalah ini kami akan menyebutkan beberapa kekeliruan yang tak jarang dilakukan oleh para pemuda bahkan sampai melalaikan perintah dari Rabb-Nya, dan tidak lupa pula kami akan menyebutkan obat-obat dari penyakit tersebut, insya Allah.

1. Penyakit Syubhat

Penyakit ini adalah sebuah penyakit yang sangat berbahaya. Allah Azza wa Jalla menyebutkan penyakit ini kepada setiap orang yang ingkar, durjana dan zalim. Allah Subhana wa Ta’ala menyebutkan penyakit ini berkaitan dengan Fir’aun, ketika dia meminta kepada Musa alahis salam“Berkata Fir’aun, ‘Maka siapakah Rabb-mu berdua, hai Musa? Musa berkata, ‘Rabb kami ialah yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (QS. Thaha: 49-50).

Ini adalah penyakit syubhat yang membuat orang menjadi ragu terhadap Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Penyakit syubhat ini berupa kebimbangan, kegelisahan serta kebingungan yang sangat dahsyat. Sebuah penyakit yang muncul karena keilmuan mengenai Islam yang kurang memadai.

Mengobati penyakit dan syubhat ini, al-Qur’an menawarkan tiga cara:
a. Merenungkan dan memikirkan alam semesta ciptaan Allah.

Allah Azza wa Jalla berfirman, “Maka apakah mereka tidak memerhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 17-20).

Dan karena itulah, Allah Azza wa Jalla menjadikan seorang laki-laki yang senantiasa mengingat-Nya dalam keadaan sepi (menyendiri), sehingga air matanya berderai, sebagai salah satu di antara tujuh orang yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, ketika tidak ada lagi naungan selain naungan Allah.

b. Berdzikir kepada Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati dzikir dengan berpikir sebagaimana yang tertera di dalam firman-Nya, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, (seraya berkata) “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’’ (QS. Ali-Imran: 190-191).

c. Memperbanyak ibadah sunah

Rasulullah  shallallahu’alaihi wasallam  bersabda tentang sesuatu yang beliau riwayatkan dari Rabbnya, “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang Aku wajibkan atasnya. Dan hambaKu senantiasa mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. al-Bukhari).

2. Penyakit Syahwat

Yang dimaksud penyakit syahwat adalah segala bentuk kemaksiatan. Pembahasan sebelumnya merupakan penyakit akidah, namun pada penyakit kedua ini merupakan penyakit amalan.
Dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alahi wa sallam bersabda, “Sungguh, kamu akan mengikuti sunnah-sunnah orang-orang sebelum kamu, setapak demi setapak, bahkan kalau mereka masuk ke dalam sarang biawak, niscaya kamu juga akan memasukinya. “Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrhani?” Rasulullah shallallahu alahi wa sallam bersabda, “Siapa lagi kalau bukan mereka?”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, syahwat adalah penyakit kemaksiatan dan dosa yang banyak digandrungi generasi muda. Seperti melihat kepada wanita yang masih haram untuknya, mendengarkan nyanyian-nyanyian bermusik, melihat gambar dan majalah-majalah porno, dan kemaksiatan-kemaksiatan lainnya.

Mayoritas generasi muda terjerumus ke dalam lembah penyakit syahwat ini, bukan pada penyakit syubhat. Adapun penyembuhan dari penyakit ini adalah dengan bersabar. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman, “Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. (As- Sajdah: 24).

Imam Ahmad bin Hambal t berkata, ” Saya tidak melihat sesuatu yang lebih ampuh dari pada kesabaran. Saya merenungi dan mengamati al-Qur’an, lalu saya mendapatkan ada 90 tempat yang berbicara tentang sabar”.

Wahai generasi muda harapan Islam, betapa indahnya hidup di bawah naungan kesabaran, Syaikh Hafizh Al-Hakami rahimahullah mengatakan, “Bersabarlah terhadap larangan-larangan Allah, dan mintalah pertolongan dan bersyukurlah kepada-Nya”.

3. Pergaulan pemuda yang kurang terkontrol

Allah Azza wa Jalla berfirman, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. az-Zukhruf: 67).

Salah seorang ulama berkata, “Waspadalah terhadap teman yang jahat, meskipun kamu sudah bertekad akan menunjukinya jalan yang benar, karena sebenarnya dia sangat berbahaya. Sebab, orang yang berusaha menipu akan memperdaya orang yang baik-baik, jarang sekali orang dapat mengalahkan orang yang berusaha menipu.”

Adapun obat untuk mengobati penyakit ini adalah memperbanyak berteman dengan orang-orang yang bertakwa, yang menjaga hak-hak Allah atasnya.

4. Menyia-nyiakan waktu

Penyakit ini sering melanda generasi muda, meskipun dia melaksanakan shalat, puasa, haji dan umrah. Dalam Islam, waktu adalah sebuah investasi untuk membantu kita menuju kebahagiaan di negeri akhirat kelak, meskipun berupa amal perbuatan yang bersifat duniawi. Hal itu dapat kita raih dengan mengikhlaskan niat karena Allah semata serta mengarahkannya kepada akhirat.

Ibnul Qayyim t mengatakan, “Kesia-siaan terjadi karena sepuluh sebab. Sebab yang paling dahsyat adalah kesia-siaan waktu, karena tidak akan ada gantinya. Karena apabila hati sudah tersia-siakan, maka kita telah merugikan tempat kembali. Apabila waktu kita tersia-siakan, maka usia kita pula akan sia-sia belaka.
Disebutkan di dalam sebuah nasihat yang diberikan oleh syaikh Dr. A’idh al-Qarni, dalam salah satu buku karangannya “Jadilah Pemuda Kahfi” yang juga merupakan referensi utama dari tulisan ini, beliau berkata, “Wahai generasi muda, peliharalah waktumu! Demi Allah, apabila kita menyia-nyiakannya, maka selamanya dia tidak akan kembali kepada kita. Manfaatkanlah dia dan lakukanlah amal kebaikan kepadanya, baik berupa ibadah, belajar, atau memberikan manfaat pada orang lain.”

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dan memudahkan kita untuk selalu bersabar dalam meniti jalan yang diridhoi-Nya. Amin.
Wallahu Ta’ala A’lam

Alif Jumai Rajab

Buletin Al-Fikrah No. 03 Tahun XV 02 Shafar 1435 H / 06 Desember 2013 M

stiba.ac.id/2013/12/23/pemuda-dalam-dekapan-islam/

Baca Juga  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam Sang Suri Teladan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini