Pengaruh Pola Hidup Materialistis

0
50

Pengaruh Pola Hidup Materialistis

Buletin-al-Fikrah

Gaya hidup materialistis saat ini banyak menghinggapi kehidupan manusia. Tak terkecuali sebagian kaum Muslimin.  Pandangan materialistis adalah gaya hidup yang mengedepankan cara pandang tentang kehidupan yang hanya terbatas pada usaha untuk mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia, sehingga aktivitas hidup yang dijalankan hanya berkisar pada masalah bagaimana bisa menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan ekonomi, membangun rumah, memenuhi kepuasan hidup, dan hal-hal lain yang bersifat duniawi.  Tak lagi memikirkan akibat dan sikap yang seharusnya dilakukan, karena anggapan mereka bahwa kebahagiaan hidup hanya bisa diraih dengan harta.

Alhasil, pandangan mate-rialistis ini telah melalaikan manusia dari tujuan inti penciptaannya yaitu penghambaan diri kepada Allah semata dalam setiap aspek kehidupannya. Allah berfirman (artinya),

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 56-58).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau menyangka karena banyak harta orang menjadi kaya?” Saya (Abu Dzar) menjawab, “Ya, Rasulullah.” Beliau bersabda, “Apakah kau menyangka karena harta sedikit orang menjadi miskin?” Saya berkata, “Ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya kekayaan adalah kecukupan dalam hati dan kemiskinan adalah miskin hati.” (HR. Hakim dan Ibnu Hibban)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya), “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11).

Allah menciptakan dunia tidak untuk main-main atau senda gurau, tapi Allah menciptakannya untuk suatu hikmah yang agung sebagaimana firman Allah (artinya), “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al Kahfi: 7).

Allah menciptakan dunia tidak lain ialah sebagai ladang kampung akhirat dan kampung untuk beramal. Sedangkan akhirat adalah sebagai kampung menuai balasan. Barangsiapa mengisi dunia dengan amal shaleh maka ia akan menuai keberuntungan di dua kampung tersebut. Sebaliknya,

barangsiapa yang menyia-nyiakan dunianya niscaya ia akan kehilangan akhiratnya.

Pandangan Keliru terhadap Dunia

Allah menjadikan berbagai kenikmatan dunia dan perhiasan lahiriyah sebagai sarana untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Hendaknya yang kalian cari adalah hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, dan istri shalihah yang membantu kalian untuk meraih akhirat.”  (HR At-Tirmidzi)

Kenyataannya, sebagian besar manusia lebih memusatkan perhatiannya pada aspek lahiriyah dan kenikmatan materi semata. Setiap hari disibukkan dengan bekerja untuk mendapatkan harta dan kenikmatan dunia sehingga lupa menyiapkan bekal untuk kehidupan sesudah mati. Bahkan ada yang mengingkari kehidupan lain setelah kehidupan di dunia ini.

Allah berfirman (artinya), “Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan”. (QS. Al An’am: 29).

Allah mengancam orang-orang yang memiliki pandangan kerdil terhadap dunia. Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16).

Inilah ancaman Allah terhadap orang-orang materialistis. Dampak ancaman di atas berlaku bagi semua orang yang memiliki pandangan materialis yaitu mereka yang sekadar mencari keuntungan dunia, seperti orang-orang munafik, orang-orang kafir, para penganut paham kapitalisme, komunisme, dan sekularisme. Allah akan menjadikan kehidupan ini terasa sempit bagi mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya maka Allah akan membuat perkaranya berantakan, kemiskinan berada di depan kedua matanya, dan dunia tidaklah datang kecuali yang telah ditentukan baginya saja. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, maka Allah akan memudahkan urusannya dan menjadikan rasa kecukupan tertanam dalam hatinya, dan dunia akan datang dengan sendirinya.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).

Beginilah Seharusnya Memandang Dunia

Dunia bukanlah segala-galanya, ia akan mengalami kehancuran. Dunia hanyalah jembatan penyeberangan menuju akhirat yang kekal. Karenanya, segala hal yang Allah adakan di dunia ini, baik harta, kekuasaan, dan lain-lain semestinya dioptimalkan sebesar-besarnya untuk kepentingan yang lebih besar meraih kehidupan akhirat yang paling baik.

Kehidupan yang baik yang diperoleh penduduk surga tidak lain karena kebaikan dan amal shaleh yang telah mereka tanam ketika di dunia maka dunia adalah ladang untuk beramal shaleh serta medan untuk berlomba dalam kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada penduduk surga (artinya), “(Kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”. (QS. Al Haqqah: 24).

Ali bin Abi Thalib berkata, “Dunia telah habis berlalu dan akhirat semakin dekat dan masing-masing mempunyai anak keturunan. Jadilah kalian anak keturunan akhirat dan jangan menjadi anak keturunan dunia, karena sekarang kesempatan beramal tanpa ada pertanggungjawaban dan besok di Akhirat masa perhitungan amalan dan tidak ada kesempatan beramal.”

Orang yang mengosongkan hatinya dari keinginan dunia akan merasa ringan tanpa beban. Total menyongsong Allah dan mempersiapkan diri untuk datangnya perjalanan. Mengosongkan hati untuk dunia yang fana bukan berarti meninggalkan dunia kerja dengan mencari kehidupan dunia dan tidak mencoba berusaha. Islam sendiri memerintahkan untuk bekerja dan menganggapnya sebagai satu jenis jihad bila dengan niat yang tulus dan memenuhi syarat amanah dan ikhlas serta tidak melanggar syariat. ?

stiba.ac.id/2016/02/22/pengaruh-pola-hidup-materialistis/

Baca Juga  Kedudukan Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini