Peran Ibu Lahirkan Generasi Pemimpin

0
52

Peran Ibu Lahirkan Generasi Pemimpin

Buletin-al-Fikrah

Kehidupan kaum hawa memang penuh keunikan. Di satu sisi, jumlah mereka lebih banyak dari laki-laki, namun di sisi lain, kiprah mereka dalam sejarah hampir-hampir terabaikan dari pena sejarawan. Padahal jika diperhatikan, amat besar peran yang mereka mainkan ‘di balik layar’ dalam mengantarkan ‘si buah hati’ menjadi alim besar atau pemimpin sejati.

Seperti pepatah yang tidak asing lagi, “Di balik tokoh yang mulia, ada wanita yang mulia”. Tugas seorang wanita sebagai pendidik dan sebagai ibu dari anaknya adalah salah satu tugas yang paling mulia dan utama yang dibebankan Allah kepadanya. Ibu adalah guru pertama, sebelum si kecil berguru kepada guru besar manapun. Maka kecerdasan, keuletan dan perangai sang ibu adalah faktor dominan bagi masa depan anak.

Islam telah memberikan perhatian yang besar kepada kaum ibu dan memuliakan mereka dengan kemualian yang setinggi-tingginya. Di antara meraka terdapat wanita shalehah, ahli ibadah, pemimpin yang jejak kehidupannya ditulis oleh para ahli hadits. Tidak dipungkiri lagi bagaimana keshalehan Hasan al Bashri, kejeniusan Imam Syafi’i, kecerdasan Iyas adz-Dzaki, kegagahan dan keberanian putra Zubair, Abdullah, Urwah, tentang empat putra Khansa’ yang gugur menyongsong syahadah. Tapi siapa gerangan di balik mereka? Bagaimana sosok seorang ibu di balik mereka?

KRITERIA SEORANG IBU DALAM ISLAM

  1. Berhias dengan akhlak yang terpuji

Seorang ibu harus mampu menanamkan norma-norma luhur dan budi pekerti mulia dalam dirinya sendiri terlebih dahulu, karena yang tidak punya sesuatu tidak mungkin memberi pada orang lain, sehingga dia tidak pernah puas menghiasi dirinya dengan melaksanakan hak-hak Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Di samping itu dia terus berusaha sedikit demi sedikit manghafalkan Al-Qur’an dan hadits-hadits yang bisa membantunya dalam urusan agama dan keluarganya, dan terus mengasah kemampuannya dalam hal-hal yang positif.

Al-Qur’an telah menentukan karakter seorang ibu yang baik dan shalehah, “Maka wanita shalehah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka.” (QS. An-Nisa: 34).

Ini merupakan kriteria tambahan yang menjadi ciri wanita shalehah setelah ia menunaikan kewajiban membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan mencurahkan segenap perhatiannya dalam mendidik sang anak. Maka tidak salah kalau sahabat Utsman bin Affan t pernah berpesan kepada anak-anaknya dan berkata, “Wahai anak-anakku sesungguhnya orang yang hendak menikah itu ibarat orang yang hendak menyemai benih, maka hendaklah dia memperhatikan di mana ia akan menyemai.”

Tetapi tatkala seorang ibu hanya bisa melumuri dirinya dengan dosa-dosa saja, maka kita hanya akan menuai duri dan buah yang pahit. Allah I berfirman (artinya), “Tanah yang baik itu, tanamannya akan tumbuh subur dengan izin Allah, sedangkan tanah yang tandus, maka tanaman-tanamannya akan tumbuh merana.” (QS. Al-A’raf: 58).

  1. Menanamkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya

Seorang ibu yang bijak akan membangun akhlak anak-anaknya diawali dengan menanamkan kecintaan yang dalam kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga apapun yang dialami sang anak, dia tidak berkeluh kesah dan tidak berburuk sangka kepada Allah, begitu pula dalam mencintai Rasul-Nya.  Sebagaimana kecintaan Khubaib ibn ‘Adi kepada Rasulullah r yang ketika itu telah mengalami siksa yang sangat keras dari orang kafir, dan menjelang hukum matinya orang kafir bertanya, “Maukah kamu berikan posisimu sekarang saat ini kepada Muhammad r dan kami akan mendudukkan kamu di posisinya?” Dengan tubuh bersimbah darah Khubaib menjawab tegas, “Demi Allah, aku tidak rela diriku dan anak istriku selamat sedangkan Rasulullah r tertusuk duri sekalipun.”

Inilah hakekat cinta kepada Rasulullah r yang sebenarnya, bukan mengajarkan kepada anak ritual-ritual yang justru tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah r.

Tentunya kalau anak-anak dibesarkan dengan cara seperti itu, diajari bagaimana mendahulukan ridha Allah terhadap kepentingan pribadinya, maka setelah dewasa ia akan jadi anak shaleh, orang tuanya tidak akan mendengarkan kata kasar darinya, membentak orang tua, namun sebaliknya ia akan selalu berkata halus kepada mereka. Kalau ibunya sampai menangis di depannya, pastilah hatinya merasa sedih dan turut menangis bersamanya, karena sejak kecil ibunya telah menanamkan dalam hatinya kecintaan kepada Allah. Sebaliknya, kemurkaan orang tua akan mengundang kemurkaan Allah.

  1. Memberi dorongan untuk sukses.

Jika ada di antara ulama salaf yang telah hafal Al-Qur’an pada umur tujuh tahun, atau hafal sekian hadits pada usia yang masih belia, atau umur empat belas tahun menjadi mufti (pemberi fatwa) seperti Imam Syafi’, maka itu semua tidak terjadi begitu saja. Itu semua karena di balik kesuksesan mereka, ada ibu shalehah yang senantisa mamberikan dorongan untuk sukses.

Dengan demikian, jelaslah bahwa peran ibu amatlah esensial dalam dunia pendidikan. Ia  adalah pemeran utama dan salah satu faktor terpenting yang melatarbelakangi keberhasilan tersebut. Dengan kasih sayangnya yang tulus, merupakan tambatan hati bagi si kecil dalam menapaki masa depannya. Di sisinyalah si kecil mendapatkan kehangatan, senyuman dan belaian tangan ibu akan mengobarkan semangatnya. Jari-jari lembut yang senantiasa menengadah ke langit, teriring doa yang tulus dan deraian air mata bagi si buah hati, adalah kunci kesuksesannya di hari esok.

Sebagaimana kisah  Imam Bukhari—rahimahullah—yang sempat buta pada masa kecilnya, namun pada suatu malam, ibunya bermimpi bahwa ia berjumpa dengan Nabi Ibrahim u dan berkata, “Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah berkenan mengembalikan penglihatan anakmu karena cucuran air mata dan banyaknya doa yang kamu panjatkan kepadanya. “Keesokan harinya penglihatan Imam Bukhari betul-betul telah kembali. Inilah salah satu keutamaan dari seorang ibu yang menghiasi dirinya dengan banyak beribadah dan mendekatkan dirinya kepada Allah I.

Rasulullah r bersabda,  “Tidaklah seorang Muslim yang memanjatkan doa, bukan untuk perbuatan dosa atau memutuskan silaturrahmi kecuali akan diberikan salah satu dari tiga kemungkinan, doanya akan segera dikabulkan, akan disimpan dan diberikan ketika kita di akhirat, atau ia akan dihalangi dari tertimpa musibah yang sebanding dengannya…” (HR. Al-Bukhari dalam Al Adabul Mufrad).

  1. Selektif dalam persoalan halal dan haram

Makin baik yang masuk ke dalam perut, makin baik pula pengaruhnya, makanan bergizi saja belum cukup. Tapi lebih dari itu, hendaknya ia perhatikan dari mana makanan dan minuman itu diperoleh, jangan sampai ia masih tercampur dengan yang syubhat atau yang haram.

Rasulullah  r bersabda, “Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah! Ingatlah, daging yang tumbuh dari barang haram itu lebih layak untuk masuk neraka.” (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).

Keampuhan doa seseorang juga bergantung pada apa yang masuk dalam perutnya. Semakin baik yang masuk ke dalam perutnya, semakin mustajab pula doanya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah t, Rasulullah r menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah jauh perjalanannya, dia berambut kusut dan penuh dengan debu, lalu menadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata, “Wahai Tuhan! Wahai Tuhan!”  Sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan barang yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan?”  (HR. Muslim).

Dengan demikian bagaimanapun usaha kita, kesungguhan kita dalam mendidik sang kecil untuk menjadi orang yang mulia tapi kalau sesuatu yang haram masih memasuki rumah kita, bahkan ke dalam perut-perut keluarga kita, semua yang kita usahakan akan menjadi sia-sia belaka.

  1. Menghiasi diri dengan keikhlasan dan kesabaran

Tugas  seorang  ibu tidaklah ringan, di samping dia bertugas melayani suaminya, seorang ibu juga bertugas mengatur rumah tangga dan mendidik sang anak. Sehingga tidak sedikit seorang ibu yang sudah berkeluarga ingin kembali hidup sendiri karena merasa beban sebagai ibu rumah tangga sangat berat dan melelahkan. Tetapi tatkala semua itu diniatkan untuk beribadah, maka insya Allah beban yang berat akan terasa mambahagiakan. Dan dengan mendidik anaknya dengan benar hingga menjadi generasi shaleh dan shalehah merupakan ladang pahala baginya, karena salah satu amal yang tidak terputus setelah datangnya maut adalah doa anak shaleh untuk kedua orang tuanya. Jadi kerepotan dan keikhlasan seorang ibu akan terbayar dengan sesuatu yang tidak ternilai, sebagaimana sabda Rasulullah r, “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung pada besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Barangsiapa ridha, maka Allah meridhainya. Dan barangsiapa yang murka, maka Allah akan memurkainya.” (HR. At-Tirmizi, dinyatakan shahih oleh al Albani).

Demi menggapai kebahagian yang ukhrawi, seorang ibu tidak jarang mengerahkan seluruh kesabarannya dalam mengorbankan segala yang dia miliki. Dan tidak sedikit seorang ibu harus bersabar melepaskan anaknya untuk belajar ke negeri orang demi keridhan Allah. Maka bagaimana dengan kita, apa yang telah kita korbankan demi keridhaan-Nya?

Bahkan sekadar menyuruh anak-anak kita untuk belajar ilmu agama saja kita tidak sanggup. Justru sebagian besar orang tua sekarang menghalangi anaknya untuk memperdalam ilmu agamanya, padahal Rasulullah r bersabda, “Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).

Wallohu Waliyyut Taufiq

Abu ‘Iyadh Rafiuddin Al-Bulukumbawiy

Sumber: Buletin Alfikrah Tahun XVII 26 R. Akhir 1437 H/05 Februari 2016 M

stiba.ac.id/2016/02/24/peran-ibu-lahirkan-generasi-pemimpin/

Baca Juga  Kemahatinggian Allah ta’ala

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini