Peran Orang Tua dalam Membentuk Kepribadian Anak

0
88

Peran Orang Tua dalam Membentuk Kepribadian Anak

Buletin-al-Fikrah

Pernahkah Anda memandang anak-anak Anda dengan penuh rasa dan harapan? Sembari berdoa agar kelak tumbuh menjadi anak-anak yang shaleh.  Ataukah Anda melihat mereka seakan tidak membawa pesan apapun?

Anak-anak adalah generasi yang mesti dijaga dan tak boleh disia-siakan.

Lalu langkah apa yang mesti ditempuh kedua orang tua dalam membentuk kepribadian anak?

Langkah pertama dan yang paling penting adalah Kesalehan orang tua. Dengan kesalehan keduanya, anak-anak akan menjadi baik. Anak-anak tumbuh sesuai yang dibiasakan orang tuanya.

Penyebutan ibu didahulukan dari ayah karena beban terbesar dalam pendidikan anak berada di pundak ibu.Kebersamaan seorang ibu bersama anak-anaknya lebih lama dibanding seorang ayah yang sibuk mencari rezeki. Seorang ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya agar tumbuh mencintai dan mengamalkan agama ini. Generasi yang demikian haruslah tumbuh dari tanah yang baik dan subur.

Ibulah madrasah pertama yang menelurkan ulama, dai dan mujahid-mujahid pemberani. Karenanya ibu (istri) solehah amatlah penting dalam membangun masyarakat dan melahirkan generasi yang diberkahi. Rasulullah ` pun mendorong dan memotivasi hal ini dengan sabdanya, “Wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Pilihlah agamanya maka engkau tidak akan menyesal.” (HR. Bukhari).

Benar…

Beruntunglah Anda yang memilih istri solehah lagi berilmu, sehingga melahirkan untuk umat ini ulama.

Beruntunglah Anda yang memilih istri mujahidah (pejuang), sehingga melahirkan untuk umat ini para kesatria.

Beruntunglah Anda yang memilih istri pendakwah, sehingga melahirkan untuk umat ini para juru dakwah.

Beruntunglah Anda yang memilih istri yang ahli ibadah, sehingga melahirkan untuk umat ini para ahli ibadah.

Yah, Anda sangat beruntung.

Karenanya para ibu memiliki peran besar dan agung dalam membangun kepribadian anak dan mendidik mereka agar mengamalkan agama ini. Demikian juga para ayah, yang memiliki peran besar yang tidak lebih kecil dari peran ibu.

CONTOH PRAKTIS

Pentingnya Kesalehan Ibu dan Ayah dalam Membangun Kepribadian Anak

Seorang ibu yang senantiasa menghentikan segala aktivitas ketika mendengar kumandang azan lalu meminta anak-anak untuk melakukan hal yang sama. Menjelaskan kepada mereka bahwa Allah l akan mencintai kita jika kita menunaikan shalat tepat pada waktunya. Kemudian segera berwudhu dan melaksanakan shalat.

Dengan demikian, anak-anak akan tumbuh sedari dini melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Kenapa? Karena mereka telah belajar sejak kecil bahwa siapa yang melaksanakan shalat pada waktunya akan dicintai oleh Allah.

Kisah-kisah pentingnya peran orang tua dalam membangun kepribadian anak:

Sejarah Islam yang mulia merekam kisah-kisah dan contoh kepribadian anak yang dipengaruhi oleh kepribadian ayah dan ibu mereka. Di antaranya:

Kisah Keberanian Ayah Abdullah bin Zubair c

Ternyata menurut berbagai riwayat, keberanian Abdullah Ibn az-ZubairE adalah pengaruh dari keberanian ayah dan ibunya cyang ditirunya.

Al-Laits meriwayatkan dari Abul Aswad dari Urwah, katanya, “Az-Zubair memeluk Islam dalam usia 8 tahun. Suatu waktu dia pernah tersugesti oleh setan bahwa Rasulullah `ditangkap di dataran tinggi Mekkah. Az-Zubair yang masih kanak-kanak, berusia 12 tahun keluar rumah sambil membawa pedang. Setiap orang yang melihatnya terheran-heran dan berkata, “Anak kecil menenteng pedang?!”

Hingga akhirnya az-Zubair muda bertemu Nabi`. Nabi `turut heran terhadapnya dan bertanya,

“Ada apa denganmu wahai az-Zubair?!”

Az-Zubair mengabarkan (sugesti yang terlintas dalam fikirannya) seraya berkata,

“Aku datang untuk memenggal leher siapa pun yang menangkapmudengan pedangku ini!” (Siar a’lam an-Nubala, I/41-42).

Kisah Keberanian Ibu Abdullah bin Zubair

Dialah Asma binti Abu Bakar c,

Imam adz-Zahabi berkata, “Abu al-Muhayyah bin Ya’la at-Taymi menceritakan kepada kami dari ayahnya, katanya, “Aku masuk Mekkah setelah tiga hari terbunuhnya Ibnu az-Zubair yang terpasung. Ibunya yang sudah renta datang dan berkata kepada al-Hajjaj:

“Bukankah sekarang saatnya bagi yang terpasung (Abdullah bin Zubair) untuk diturunkan?”

“Si munafik?” Sela al-Hajjaj.

“Demi Allah, dia bukanlah orang munafik. Dia adalah anak yang senantiasa berpuasa, shalat malam dan berbakti pada orang tua,”  sergah Ibu Ibnu az-Zubair.

“Pergilah engkau wahai orang tua, engkau tengah membual.” Ucap al-Hajjaj.

Ibu Ibnu Zubair berkata lagi, “Tidak, demi Allah, aku tidaklah membual setelah Rasulullahr bersabda,

“Di Tsaqif akan ada pendusta dan orang yang lalim.” (Lihat Siar A’lam an-Nubala: 2/294).

Sabda Rasulullah ritu adalah prediksi beliau akan peritiwa yang akan terjadi setelah kematiannya. Ibu Ibnu az-Zubair cmerupakan salah satu sahabat Nabi `dari kaum wanita. Al-Hajjaj adalah salah seorang penguasa yang lalim.

Inilah Buah Keberanian Ayah dan Ibu Abdullah bin Zubair

“Keberanian Abdullah bin Zubair c”

Ishaq Ibn Abu Ishaq berkata, “Aku hadir pada peristiwa terbunuhnya Ibnu az-Zubair, dimana para tentara masuk mengepungnya dari setiap pintu masjid. Ketika sekelompok pasukan masuk dari suatu pintu, Abdullah Ibn az-Zubair menghalau dan mengeluarkan mereka. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba jatuh plafon masjid dan menimpanya sehingga membuatnya tersungkur. Dia membaca bait syair:

Asma, wahai Asma(nama ibunya, red. janganlah menangisiku

Tidak akan tertinggal selain kemuliaan dan agamaku

serta pedang yang tergenggam di tangan kananku(Lihat Siar a’lam an-Nubala: 3/377).

Habib Ibn Zaid Terpengaruh Oleh Kedua Orang Tuanya

Pengorbanan Ibu

Anas Eberkata, “Abu Tolhah melamar Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata kepada Abu Tolhah, “Tidaklah layak bagiku menikahi lelaki musyrik (politeisme). Tidakkah kamu tahu wahai Abu Tolhah bahwa tuhan-tuhanmu dibuat oleh Abdu Alu Fulan. Jika engkau bakar tuhan-tuhan itu niscaya akan terbakar?”

Abu Tolhah pun berlalu, sedangkan dalam hatinya terngiang-ngiang apa yang dikatakan Ummu Sulaim. Berselang dari itu dia datang lagi kepada Ummu Sulaim dan berkata, “Apa yang telah engkau ajukan kepadaku aku terima. Tidak ada mahar bagimu selain memeluk Islam.”

Pengorbanan Seorang Ayah

Anas Eberkata, “Ketika perang Uhud kaum muslimin terdesak dan terpisah dari Rasulullah `, sedangkan Abu Tolhah tetap bersama Rasulullah melindung beliau dengan tombaknya. Abu Tolhah adalah seorang yang mahir memanah dan bertubuh kekar. Dia mampu mematahkan dua atau tiga busur sekaligus. Ketika ada seorang yang lewat membawa sekumpulan anak panah ada yang mengatakan,

“Berikan anak-anak panah itu kepada Abu Tolhah.”Nabi ` mendongak melihat siapa mereka, namun Abu Tolhah berkata,

“Demi ibu dan ayahku, janganlah mendongak sehingga terkena sasaran panah mereka. Biarlah tubuhku menjadi pelindungmu.(HR. Bukhari).

Inilah Buah Keberanian Ibu dan Ayah Habib

“Anak Yang Mati Syahid”

Ibnu Kasir menyebutkan dalam kitab al-Bidâyah wa an-Nihâyah, “Habib Ibn Zaid dibunuh oleh Musailamah al-Kazdzab (seorang yang mengaku nabi sepeninggal Rasulullah ` -red.).

Ketika Musailamah menginterogasi Habib, dia bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad Rasulullah?”“Ya.” Jawab Habib. “Apakah engkau bersaksi bahwa aku Rasulullah?” Tanya Musailamah lagi.Habib menjawab, “Aku tidak mendengar perkataanmu!”

(Musailamah berang) dan memutilasi Habib sambil mengulang-ulang pertanyaannya. Habib tidak menjawab lebih dari yang dikatakannya semula hingga menghembuskan nafas terakhirnya. (Lihat Siar a’lam an-Nubala 8/444).

Inilah sepenggal kisah bagaimana hubungan yang sangat erat antara keshalehan orang tua dengan pembinaan kepribadian seorang anak. Salawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Sumber: Disarikan dari“30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama”Karya Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi[islamhouse.com]

Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi

stiba.ac.id/2013/06/17/peran-orang-tua-dalam-membentuk-kepribadian-anak/

Baca Juga  Belajar Hikmah dari Sekumpulan Landak

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini