Sejarah Syiah adalah Sejarah Pengkhianatan terhadap Ahlussunnah

0
46

Sejarah Syiah adalah Sejarah Pengkhianatan terhadap Ahlussunnah

Buletin-al-Fikrah

Beberapa waktu lalu beredar selebaran yang menegaskan bahwa Khilafah Islamiyah mempersatukan Sunni dan Syiah dan menaungi keduanya dalam suasana ukhuwah. Benarkah ungkapan ini? Jawabannya, sejarah umat Islam yang panjang, baik saat mereka di bawah naungan khilafah sunniyah maupun saat berdiri pemerintahan syiah maka kaum syiah selalu memosisikan diri mereka sebagi pengkhianat dan pelaku kedzaliman yang tiada tara. Sejarah selalu bertutur bahwa perjalanan sejarah kaum Syiah adalah episode penikaman terhadap Ahlussunnah.

Berikut ini beberapa peristiwa yang merekam episode panjang itu.

Syiah Mengkhianati Ali bin Abi Thalib beserta kedua Putranya.

Saat Ali radhiyallahu anhu mengalami suasana pelik dalam menghadapi berbagai pengacau justru pengikut mereka yang berasal dari Bashrah dan Kufah (cikal bakal penganut syiah) justru meninggalkannya, padahal sebelumnya mereka telah berjanji sebelumnya membela Ali bin Abi Thalib. Saat al-Hasan tampil ingin mendamaikan kaum Muslimin dan mencegah tumpahnya darah yang lebih besar, maka penghulu pemuda surga ini bertekad menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, tapi sayang penduduk Iraq kembali mengkhianati cucu Nabi ini. Tidak sampai di sini, pasca mereka mengkhianati Ali dan al-Hasan mereka kembali mengkhianati al-Husain. Ini terjadi pada masa pemerindahan Yazid bin Muawiyah. Penduduk Kufah mengundang al-Husain ke sana agar mereka berbaiat padanya. Namun saat Husain dan keluarganya beserta pengikutnya yang berjumlah 70 orang sampai di daerah Karbala’ datanglah pasukan Ibn Ziyad membunuh mereka. Pertanyaanya kemana mereka yang berjanji mendukungnya? Mereka membiarkan Husain dan tidak menolongnya. Maka di antara doa Husain yang  terkenal adalah, “Ya Allah apabila mereka mendapatkan kenikmatan maka ceraiberaikanlah mereka. Jadikan mereka menempuh jalan yang berbeda-beda dan jangan restui para pemimpin mereka selamanya karena mereka mengundang kami untuk menolong kami namun ternyata mereka mengkhianati dan memusuhi kami ”.

Pengkhianatan terhadap Bani Abbasiyah

Ini adalah salah satu pengkhianatan syiah terhadap daulah Abbasiah yang justru telah banyak berbuat baik pada mereka. Sebagian dari mereka memperoleh jabatan menteri. Disebut dalam riwayat bahwa Ali Yatqin adalah menteri Harun al-Rasyid. Saat narapidana berkumpul dalam penjara, ia memerintahkan anggotanya untuk menghancurkan atap penjara sehingga menimpa mereka yang ada dalam penjara. Jumlah mereka yang tewas kira-kira ada lima ratus orang dan sang menteri tidak mau bertanggungjawab atas kejadian ini.

Setelah itu sang menteri mengirim pesan kepada Imam al-Kazhim. Al-Kazhim menjawab, “Andai kau datang padaku sebelum membunuh mereka kamu tidak harus mempertanggungjawabkan kematian mereka, tapi karena kau tidak datang padaku maka bayarlah kaffarat untuk setiap orang yg kau bunuh dengan seekor kambing jantan.” Mereka menyebut ini sebagai dalil bolehnya membunuh nawashib.

Pengkhianatan Daulah Fathimiyah dalam mengenyahkan eksistensi Ahlussunnah dan menyebar tasyayyu’

Di antara strategi Syiah dalam menyebar tasyyu’ jika mereka tidak memiliki daulah  maka dai syiah disebar secara diam-diam, namun saat mereka memiliki daulah maka mereka langsung menjadikan mazhab Syiah sebagai mazhab daulah tersebut.

Adalah Abu Abdillah as-Syi’i salah seorang dai Syiah menyebar tasyayyu’ di daerah Afrika utara dan menaklukkan beberapa daerah yang ada di sana sampai mereka berhasil mendirikan daulah dan mengumumkannya pada tahun 296 H.

Selanjutnya mereka memandang daerah Afrika utara tidak cocok menjadi pusat pemerintahan negara mereka sampai mereka melirik Mesir karena negeri ini sangat subur dan memiliki kekayaan yang melimpah. Maka orang-orang Fathimiyah menyerang Mesir sejak tahun 301 H sampai 305 H. Pada tahun  350 H Khalifah Fathimiyah mengamanahkan kepada Jauhar as-Shaqali untuk menulis surat perjanjian damai dengan  penguasa Mesir yang salah satu isinya berbunyi, “Orang-orang Mesir tetap pada mazhab mereka, dan tidak diharuskan bermazhab Syiah, adzan, shalat, puasa Ramadhan dan Idul Fitri, zakat, haji diperbolehkan sesuai dengan yang ada dalam Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.”

Namun saat Khalifah al-Mu’idz Lidiinillah tiba di Mesir tahun 362 H. dia berpikir sekeras-kerasnya bagaimana agar orang-orang Mesir mengikuti mazhab Syiah dan mengikuti khilafah Fathimiyah. Di antara strategi mereka adalah mempercayakan posisi-posisi tinggi kepada orang Syiah dan menjadikan masjid-masjid besar sebagai pusat dakwah Fathimiyyah, seperti Jami’ al-Azhar, masjid Amr bin Ash dan masjid Ahmad Thulun. Akhirnya, dengan strategi tersebut Bani Fathimiyah berhasil melaksanakan syiar-syiar mereka yang kontra dengan keyakinan Ahlussunnah, seperti adzan dengan “hayya ala khairil amal”, memperingati tragedi Karbala. Selanjutnya serangan itu  tidak terbatas pada syiar-syiar saja tapi memaksa Ahlussunnah dan mengintimidasi mereka agar ikut dengan ritual-ritual mereka.

Al-Maqrizi berkata, “Pada tanggal 10 Muharram 363 H, sekelompok orang Syiah Mesir dan Maroko berjalan di atas kendaraan mereka sambil meratapi dan menangisi al-Husain. Mereka juga menyerang setiap orang yang tidak ikut seta dalam kesedihan. Ini juga berakibat pada terhentinya aktivitas jual beli di pasar”.

Bani Fathimiyah Berkoalisi dengan Orang Eropa Dalam Memberangus Ahlussunnah.

Daulah Fathimiyah memilih diam dari memerangi kaum Salib yang menyerang wilayah kaum Muslimin, bahkan yang terbukti dalam sejarah mereka justru memerangi kaum Muslimin dan berdamai dengan kaum Nasrani, bahkan memberi bantuan kepada mereka guna melawan kaum muslimin Ahlussunnah. Saat gerakan Shalahuddin al-Ayyubi mengancam eksistensi Bani Fathimiyah di Mesir mereka mengirim surat ke Eropa  dan mengundang mereka ke Mesir. Orang-orang Eropa pun bener-benar datang ke Mesir dan mengepung kota Dimyath pada tahun 565 H membatasi ruang gerak penduduknya dan membunuh banyak orang di sana.

Pengkhianatan Al-Qaramithah.

Al-Qaramithah mengaku bahwa mereka memiliki  hubungan dengan  Ismail bin Ja’far as-Shadiq. Kemunculan mereka pertama kali pada tahun 279 H pada masa khilafah Abbasiah al-Mu’tadhid Ahmad bin Muwaffiq. Saat mereka telah mengausai Ihsaa’, Bahrain dan Amman mereka pun berusaha menguasai Mesir namun gagal .

Qaramithah dalam perjalanannya pernah berusaha menentang Daulah Abbasiyyah dan berusaha menaklukkannya, kadang dengan cara berperang terkadang dengan cara berkhianat. Mereka berusaha menguasai para penguasa Abbasiyah yang lemah yang sesungguhnya tidak lagi memiliki kekuasaan. Bahkan al-Qaramithah sangat berani menodai tempat paling mulia di atas permukaan bumi ini yaitu Masjidil Haram, Makkah dengan cara mencopot paksa Hajar Aswad dari tempatnya serta membawanya ke negeri mereka. Maka kaum Muslimin pun berhaji tanpa Hajar Aswad selama dua puluh tahun lamanya.

Pengkhianatan Syiah Saat Tartar Memasuki Syam.

Orang-orang Tartar masuk ke Syam pada tahun 657 H di bawah pimpinan raja mereka Hulaghu Khan. Mereka menyeberangi sungai Eufrat di atas jembatan yang mereka bangun sendiri. Sesampai di Halb tanggal 2 shafar 657 mereka langsung mengepungnya selama tujuh hari dan kemudian membukanya dengan damai.

Namun mereka menipu penduduknya dan membunuh beberapa orang di antara mereka. Pasukan ini merampas harta benda, menawan wanita dan anak-anak, serta berbuat seperti apa yang mereka perbuat di kota Baghdad.

Saat itu sekelompok orang Nasrani datang menemui Hulaghu Khan dengan membawa hadiah. Mereka datang bersama orang yang bernama Firman Aman dari Juhnah. Mereka masuk membawa salib yang diangkat di atas kepala orang-orang sambil meneriakkan syiar mereka dan mengatakan, “Agama yang benar adalah agama al-Masih,” sambil menghina Isalam dan pemeluk-pemeluknya.

Di antara mereka yang berkhianat adalah orang-orang Syiah dengan cara mengiming-iming orang-orang Tartar dengan harta kaum Muslimin. Sebagai konpensasinya Hulaghu Khan menyerahkan kekuasaan kehakiman atas seluruh kota Syam, Moshul, Mardin dan al-Akrad kepada al-Qadhi Kamaluddin Umar bin Badr at-Taflisi as-Syi’i.

Pengkhianatan Syiah Terhadap Shalahuddin al-Ayyubi

Orang-orang Syiah selamanya tidak akan pernah lupa bahwa Shalahudinlah yang melenyapkan Daulah Fathimiyah di Mesir, dan ia pulalah yang mengembalikan Ahlussunnah ke posisi mereka semula. Sebab itu mereka berusaha membunuhnya berulang kali dan medirikan Daulah Fathimiyah yang baru. Mereka juga berusaha demikian rupa dengan cara meminta bantuan kepada orang-orang asing dengan berkirim surat kepada mereka.

Pada tahun 569 H sekelompok penduduk Mesir berkumpul guna mengangkat salah satu putra al-Adhid-Khalifah Fathiyah terakhir dan bertekad membunuh Shalahuddin al-Ayyubi serta mengirim surat kepada orang-orang asing guna meminta bantuan kepada mereka.

Pengkhianatan Syiah Terhadap Bani Saljuk.

Orang-orang Saljuk adalah mereka yang menisbahkan diri pada keluarga besar al-Ghizz dari Turki tepatnya pada kakek mereka Saljuk bin Taqaq. Bani Saljuk ini berhasil menlenyapkan orang-orang Buwaihiyyun. Meski belum terbebas dari tekanan Bani Fathimiyah namun Bani Saljuk senantiasa menolong Ahlussunnah wal jamaah.

Di antara episode pengkhianatan mereka pada masa ini adalah ketika penduduk Kirkuk yang Syiah merampas rumah-rumah penduduk Ahlussunnah di Basrah, menguasai dokumen-dokumen dan buku-buku hukum di rumah Qadhil Qudhah ad-Damighani lalu dijual kepada para pedagang rempah. Mereka juga berhasil mengembalikan lafadz adzan mereka, “hayya ala khairil amal” di seluruh pelosok Baghdad.

Demikianlah seterusnya sejarah Syiah adalah sejarah pengkhianatan. Watak berkhianat memang lahir dari akidah kebencian terhadap Ahlussunnah. Keberadaan mereka sepanjang sejarah seperti belati berkarat yang senatiasa siap dihunjamkan ke dalam ulu hati. Jadi dengan begitu, tidak ada cerita indah bahwa Sunni dan Syiah damai di bawah naungan khilafah.

Penulis: Ishaq Subuh, Lc.

Sumber Buletin al-Fikrah edisi ke-12/20 Jumadal Akhirah 1436 H-10 April 2015 M

stiba.ac.id/2015/04/20/sejarah-syiah-adalah-sejarah-pengkhianatan-terhadap-ahlussunnah/

Baca Juga  Apakah Seseorang Yang Telah Meninggal Memiliki Perasaan Dan Dapat Mendengar Serta Melihat?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini