Surat Terbuka untuk Sang Artis

0
76

Surat Terbuka untuk Sang Artis

Buletin-al-Fikrah

Di  masa  lalu,   umat  ini   pernah  menghasilkan  banyak  ulama, pemimpin besar,   syuhada  dan   sastrawan.  Ketika  itu,   Barat  hanya   bisa  menghasilkan penyamun, penyeru kejahatan, penyelundup narkotika dan penjagal manusia.

Lalu keadaan berubah.

Jadilah umat ini menghasilkan artis serta penyanyi. Jadilah Barat menghasilkan inovator, penemu, dokter serta insinyur.

Lalu, apa yang telah diperbuat seni terhadap kita? Dan apa pula yang telah kita lakukan bersama-sama seni?

Keadaan umat ini telah berubah, sehingga menjadi terbelakang, padahal dulunya pernah memimpin dunia. Umat ini menjadi berada pada titik nadir, padahal dulunya pernah berada pada puncak tertinggi. Umat ini menjadi bawahan, padahal dulunya pemimpin.

Seorang penyair berkata,

  “Begitu banyak “tangan“ yang mengatur kita

Padahal dulu kita yang mengaturnya

Ada bangsa yang menguasai kita

Padahal dulu kita yang menguasainya.”

Dalam hal ini, ada beberapa hal ikhwal seputar para artis:

Mereka mengistilahkan salah satunya sebagai “artis yang lagi naik daun”, padahal mereka sedang menurun. Mereka mengistilahkannya “sang bintang”, bintang yang sedang berkilau, padahal sebenarnya ia tanpa cahaya.

Berbagai media informasi menghidupi mereka dan manyalakan cahanya pagi sore. Ketika itu, media informasi memadamkan cahaya para ulama, para penuntut ilmu dan dai-dai. Lalu apa yang dibawa seni untuk umat ini?

Wahai kaum Muslimin, wahai para cendekiawan, wahai para pemikir! Apakah seni telah mengentaskan kemiskinan, keterbelakangan, kelaparan, bid’ah dan khurafat dari dunia Islam?

Apakah seni telah mengajarkan orang-orang yang tak berilmu, baik di kota-kota maupun di desa-desa? Apakah mereka telah memberi makan orang-orang yang kelaparan itu, memberikan pakaian kepada orang-orang yang masih telanjang itu, serta memberikan minuman orang-orang yang kehausan itu?

Apakah jutaan orang yang menghabiskan waktu dan biaya secara sia-sia telah memberikan andil dalam pembangunan masjid-masjid, sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit?

Apakah seni bisa mengembalikan Palestina kepada kita, sementara beribu-ribu orang Islam berebutan mengelilingi sang artis pria masa kini dan sang artis wanita nomor wahid? Apakah seni bisa mengembalikan Andalusia (Spanyol)? Apakah seni telah mengisinya dengan berbagai perangkat modern yang semuanya justru diimpor dari musuh kita?

Berbagai media informasi setiap hari selalu berkata, “Kabar gembira dengan munculnya sang artis yang karirnya sedang menanjak, yang datang membawa cahaya baru dengan seni dan suaranya yang merdu. “   Suara yang merdu itu Allahlah yang menciptakannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4).

Mujahid menafsirkan, “Yaitu suara yang indah.”

Allahlah yang memberikan suara indah itu. Apakah diberikan-Nya untuk orang-orang yang bercinta dan para penyanyi? Tidak! Tetapi diberikannya untuk sebuah hikmah. Suara itu seperti kekuatan tubuh, kekuatan ingatan, harta dan anak. Apabila tidak digunakan untuk menaati Allah, maka tidak terdapat kebaikan di dalamnya. Kelak seorang hamba akan dihisab (dihitung amal perbuatannya) berkaitan dengan hal itu.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak melantunkan Al Qur’an dengan suara indah.” (HR. Bukhari).

Maksudnya, menggunakan suara indahnya untuk membaca al Qur’an dengan tartil (pelan-pelan dan memerhatikan tajwidnya).

Abu Musa radhiyallahu ‘anhu indah suaranya. Suaranya bisa begitu menawan hati. Lalu, apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhnya untuk melantunkan beberapa kumpulan syair cinta picisan dan komedi? Tidak, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan Abu Musa sebagai qari’ (pembaca Al Qur’an).

Pada suatu malam, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan, lalu mendengar suara Abu Musa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam cukup lama berdiri mendengarkannya. Beliau bersabda,

“Wahai Abu Musa, kamu benar-benar telah dikaruniai salah satu tembang keluarga Dawud. Kalaulah kamu melihatku kemarin sedang mendengarkan suaramu.“ Kata Abu Musa, “Wahai Rasulullah, engkau benar-benar mendengarkan bacaanku?“            Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Benar, demi Rabb yang diriku berada dalam tangan-Nya “ Abu Musa berkata, “Demi Allah yang tidak ada Rabb selain Dia, Wahai Rasulullah, kalaulah aku tahu engkau mendengarkanku, pasti suaraku benar-benar kuhias untukmu.“

Artinya, kuperbagus, kuperindah dan kujadikan lebih mengagumkan.

Karenanya, suara yang bagus itu digunakan untuk membaca Kitabullah. Dengan suara itu, Al Qur’an itu dibaca secara tartil. Hanya untuk Kitabullah, bukan untuk yang lain.

Selanjutnya, Anda bisa menjawab pertanyaan saya, “Apa pentingnya artis dalam kehidupan ini? Kalau insinyur, kita tahu jerih payahnya. Begitu juga halnya dokter, karyawan, pedagang, petani dan juga tentara. Pokoknya, selain artis. Adapun artis, saya tidak pernah tahu manfaat pekerjaannya kecuali untuk merusak masyarakat, menghancurkan akhlak, menggelitik perasaan, membangkitkan nafsu, membuat orang suka berbuat nista, menodai kehormatan, mendekatkan kepada zina, serta melalaikan generasi harapan umat ini.

Seperti inilah tugas para artis dalam kehidupan ini.

Lantas, siapa yang bertanggung jawab terhadap munculnya generasi artis yang terlena, terbuai, tidak mengetahui agama dan tugasnya dalam kehidupan ini? Apakah ajaran yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mencetak generasi demikian? Demi Allah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus hanya untuk mengokohkan negeri-negeri tauhid dan menyebarkan kemuliaan di dunia ini.

Darah kaum Muslimin di Palestina, di Afganistan dan setiap negeri Allah tumpah, sementara musik dan nyanyian di negeri-negeri lainnya dimainkan dan disanjung. Benarkah hal seperti ini?

Seorang penyair berkata,

“Darah orang-orang shalat di mihrab mengalir

Kaum Muslimin tidak menghalangi

Tak ada berita

Bila yang kalah jiwa berbangga dengan piramid-piramid kita, piramid-piramid kita adalah Salman atau Umar

Piramid-piramid kita dibangun Thaha (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam)

Penyangga-penyangganya wahyu dari Ar-Rahman

Bukan tanah, bukan batu.”

Inilah piramid-piramid kita, inilah seni kita, inilah bintang-bintang kita: Abu Bakar, Umar, Ibnu Taimiyah, Malik, Ahmad serta Ibnul Qayyim.

Sedangkan orang-orang yang terjerumus tadi bukanlah bintang-bintang umat Islam. Mereka hanyalah kuli kenistaan dan perusak di negeri Islam. Anda bisa menemukan sebagian mereka ada yang telah mencapai usia delapan puluh tahun dan masih bernyanyi.

Sementara, banyak di antara ulama dan orang-orang shaleh sudah memakai kain kafan di usia mereka yang ke enam puluh. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Barangsiapa yang diberikan Allah usia sampai enam puluh tahun, maka hendaklah orang itu memakai kain kafan dan bersiap-siap masuk kubur.”

Karenanya, orang yang paling pantas dihormati adalah orang-orang yang mempersembahkan ilmu pengetahuan dan memberi kontribusi bagi manusia. Mereka menyejahterkan manusia lewat kesungguhannya, mempertahankan kemaslahatan manusia, serta berusaha mewujudkan perdamaian hakiki di muka bumi. Mereka juga menolak berbagai kriminalitas dan kenistaan dari kehidupan umat ini.

Mereka inilah orang-orang yang lebih pantas dihormati dan dimuliakan. Bukan orang-orang yang terjerumus, bukan golongan-golongan yang berbuat sia-sia, bukan pula ribuan orang yang berada di auditorium menyanjung para artis dan bertepuk tangan untuk mereka.

Ribuan orang itu menyia-nyiakan malam dan shalat, tidak pernah menghadiri pengajian dan ceramah-ceramah agama. Tidak pernah shalat Jumat, apalagi shalat berjamaah./

Sumber : Fityatun Amanu bi Rabbihim (Terjemahan), karya Dr. Aidh Al Qarni, M.A.

Bulletin al-Fikrah edisi ke-18 tahun VI

stiba.ac.id/2015/05/18/surat-terbuka-untuk-sang-artis-2/

Baca Juga  Maqashid Ibadah Haji (1)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini