Tarbiyah jasadiah Pun Perlu

0
35

Tarbiyah jasadiah Pun Perlu

Buletin-al-Fikrah

(al-Fikrah no. 14 Tahun X/29 Rabi’ul Akhir 1430H)

Al Qur’an memperhatikan dan menekankan di beberapa ayat akan pentingnya membentuk jasmani yang kuat, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla, artinya,

“Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat fisiknya lagi dapat dipercaya.” (QS. Al Qashash: 26).

Senada dengan ayat di atas, terdapat pula ayat di mana Allah Azza wa Jalla menjelaskan tentang Thalut penguasa Bani Israil, yaitu firman Allah Azza wa Jalla, artinya,

“…(Nabi mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” (QS. Al Baqarah: 247).

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga telah menekankan urgensi kekuatan bagi seorang mukmin dengan segala maknanya, sebagaimana sabda beliau,

(( الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ ))

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).

Ada beragam cara untuk membina jasmani yang sehat dan kuat. Baik berupa permainan maupun olahraga. Di antaranya adalah seperti yang pernah dilakukan atau diperintahkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, antara lain:

1. Memanah
Uqbah bin Amir  selalu ingin latihan memanah padahal beliau telah lanjut usia, sehingga pernah ada yang mengatakan kepadanya, “Anda mengerjakan itu padahal Anda telah lanjut usia dan itu memberatkan Anda.” Beliau menjawab, “Kalau bukan karena sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam, aku tidak akan mengerjakannya lagi. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

((مَنْ عَلِمَ الرَّمْىَ ثُمَّ تَرَكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا أَوْ قَدْ عَصَى ))

“Barangsiapa yang tahu memanah kemudian meninggalkannya, maka ia bukan golongan kami—atau beliau bersabda, “Maka ia telah berbuat maksiat.” (HR. Muslim).

Disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwa Ismail  adalah seorang pemanah. Demikian pula dengan nabi kita Muhammad  juga adalah seorang pemanah ulung.
Uqbah Radhiallahu Anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda—saat itu beliau berada di atas mimbar,

 وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْىُ 

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah, kekuatan itu adalah dengan melempar—beliau mengucapkannya tiga kali).” (HR. Muslim).

Melempar dalam hadits ini bisa bermakna memanah, menombak, dan menembak dengan berbagai jenis senjata.

2. Bermain Tombak
Aisyah—radhiyallahu ‘anha—berkata, “Aku melihat Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri di depan pintu kamarku, sedangkan utusan Habasyah (Etiopia) mengadakan permainan dengan tombak mereka di masjid…..” (HR. Bukhari dan Muslim).
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Bermain tombak, bukan hanya sekadar permainan belaka. Namun di dalamnya ada unsur melatih keberanian untuk berperang dan persiapan menghadapi musuh.” (Fathul Bari, 1/549).
Saat sekarang, ada berbagai jenis senjata yang dapat digunakan untuk berlatih, di antaranya adalah pedang, golok, toya, double stick, dan sebagainya. Seorang Muslim dituntut mampu menggunakan setidaknya salah satu dari berbagai jenis senjata yang ada.
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam mempunyai pasukan tangguh yang berasal dari Muhajirin dan Anshar. Beliau memiliki bala tentara yang terkenal, seperti Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah Al Jarrah, Khalid bin Walid, Abdullah bin Rawahah dan banyak lagi selain mereka—ridhwanullahi ‘alihim ajma’in. Untuk bisa seperti mereka, tidak ada upaya yang bisa mengantarkannya kecuali latihan yang serius.

3. Adu Kekuatan (Gulat/Sparing)
Dalam sirahnya, Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa ada seorang yang berbadan kuat di kota Makkah bernama Rukanah. Manusia banyak yang mendatanginya untuk bergulat. Suatu hari, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada di dataran yang luas, lalu datang Rukanah menghadap beliau dengan membawa anak-anak kambingnya. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Wahai Rukanah, bertakwalah kepada Allah, apakah kamu tidak mau menyambut dakwahku?” Rukanah balik bertanya, “Apakah ada bukti untuk kejujuranmu?” Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Iya. Bagaimana menurutmu jika aku bisa mengalahkanmu dalam gulat, apakah kamu mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?” “Iya. Mari kita bergulat,” jawab Rukanah. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mengambil kuda-kuda untuk mulai bergulat. Beliau bergulat dengan sigap hingga membuat Rukanah terheran-heran dan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dapat mengalahkannya dalam waktu singkat. Rukanah meminta diulang hingga tiga kali. Namun Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap memenangkan gulat tersebut hingga Rukanah bersedia menyatakan masuk Islam.
Bayangkan, jika seorang non Muslim menantang Anda bergulat atau jenis adu kekuatan lainnya dengan taruhan, jika kalah dia akan masuk Islam, siapkah Anda memanfaatkan peluang ini? Ternyata, fisik yang kuat pun bisa menjadi penunjang dakwah seorang dai.

4. Renang
Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
”Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.”(HR. An-Nasai, lihat Silsilah shahih : 309).
Umar bin Khatthab Radhiallahu Anhu berkata, “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan perintahkanlah mereka untuk melompat ke atas kuda.”
Tidak ada jenis olahraga yang dapat menguatkan tulang, melenturkan urat saraf dan menambahkan ketangkasan seperti olahraga renang. Berenang melibatkan semua otot di seluruh bagian tubuh. Semua organ vital, seperti jantung dan paru-paru ikut terlatih. Ini sangat menyehatkan dan membuat tubuh bertambah bugar. Daya tahan tubuh pun meningkat. Renang membuat otot dada dan paru-paru mengembang yang membuat kapasitasnya makin besar. Berenang sangat efektif membakar lemak. Berdasarkan penelitian, sekitar 25% kalori bisa terbakar dengan berenang.

5. Menunggang Kuda
Dulu, mengunggang kuda adalah salah satu penopang peperangan yang dapat mengantarkan kemenangan, sehingga dengan urgensi tersebut, Islam menyebutkannya dalam al Qur’an dan sunnah panglima perang generasi pertama—Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Firman Allah Subhna wa Ta’ala, artinya,

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.” (QS. Al Anfal: 60).

Sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

“Memanahlah dan paculah kuda.” (HR. Muslim).

Para sahabat Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah adalah orang-orang yang paling sempurna dan lihai menunggang kuda. Mereka membuka hati dengan hujjah dan petunjuk. Menaklukkan negara dengan pedang dan senjata. Kelihaian menunggang kuda pada zaman modern sekarang ini, bisa diqiyaskan dengan kemampuan mengendarai berbagai jenis kendaraan.

APA YANG TELAH KITA SIAPKAN

Allah Subhna wa Ta’ala berfirman, artinya,

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.” (QS. Al Anfal: 60).

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah sabdanya telah mengingatkan,

((مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاق ))

“Barang siapa yang mati dan belum pernah berjihad, dan tidak pula bertekad untuk berjihad, maka ia mati pada salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim).

Tak ingin dikatakan mati munafik, semua orang yang ditanya tentang keinginannya untuk berjihad, ramai-ramai menjawab ingin berjihad. Tapi pertanyaan selanjutnya, apa yang telah kita persiapkan untuk puncak Islam ini?
Allah Subhna wa Ta’ala berfirman, artinya,

“Dan jika mereka mau berangkat (untuk berjihad), tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu.” (QS. At-Taubah: 46).

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki sembilan buah pedang, tujuh baju baja, enam tameng—pesan moral; Islam tidak mengajarkan ilmu kebal—lima tombak dan pisau kecil.
Subhanallah! Seorang nabi akhir zaman, kekasih Allah, merasa perlu melakukan persiapan sematang itu? Dengan doa dan kedekatannya kepada Allah Subhna wa Ta’ala beliau mampu menyelamatkan diri dari musuh-musuhnya, namun beliau ingin mengajarkan kepada kita pentingnya i’dad (persiapan).
Lakukanlah persiapan untuk menggetarkan musuh-musuh Allah. Dan semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak layak menjalankan perintah Allah yang penuh berkah ini disebabkan keengganan kita melakukan persiapan. Allah Subhna wa Ta’ala berfirman dalam kelanjutan ayat di atas, artinya,

“…Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka (untuk berjihad), maka Allah melemahkan keinginan mereka. Dan dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah: 46).

Wallahu Dzul Quwwah Al Matin

Baca Juga  Diampunikah Dosa Syirik Kecil tanpa Tobat?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini