Tragedi Paris, Siapa Dirugikan

0
48

Tragedi Paris, Siapa Dirugikan

Buletin-al-Fikrah

Jangan pernah meminta maaf atas kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang itu,” tulis Abdullah Al-Athba dalam akun twitternya sesaat setelah pembantaian di kantor majalah mingguan Charlie Hebdo di Paris awal tahun ini.

Kicauan Al-Athba yang merupakan pemimpin redaksi salah satu surat kabar terbesar di Qatar ini harusnya tertanam dalam benak setiap muslim yang merasakan ‘izzah bahwa ideologi Islam dan ajarannya tidaklah mengajarkan aksi kriminal dan terorisme kepada bangsa apapun di dunia ini. Islam mengajarkan pada umatnya bahwa aksi kriminal dan terorisme terhadap orang-orang yang tak bersalah adalah suatu dosa besar dan perbuatan sangat keji, tidak bisa diterima dan harus dikecam, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, Barangsiapa yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia.” (QS Al-Maaidah: 32).

Juga dalam suatu hadis, Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam bersabda, “Dosa yang paling besar adalah berbuat syirik kepada Allah, membunuh jiwa, durhaka terhadap kedua orangtua, dan berkata dusta.” (Muttafaq ‘Alaih).

Sebab itu, setiap muslim yang memiliki ideologi Islam yang benar pasti akan mengingkari setiap kejahatan kemanusiaan dan aksi terorisme terhadap semua umat manusia, baik orang kafir ataupun muslim, termasuk tragedi pembantaian di Kota Paris baru-baru ini yang menewaskan lebih dari 160 jiwa dan  menyebabkan  sekitar 200 lainnya luka-luka. Siapapun pelaku di balik pembantaian ini—apakah ISIS yang sudah mengaku sebagai pihak yang bertanggung jawab atau bukan—yang pasti mereka telah melakukan satu kriminal kejam dalam pandangan Islam. Ini berbanding terbalik dengan ideologi negara-negara Barat termasuk Prancis yang sama sekali tak mengakui bila pembantaian atas umat Islam yang tak berdosa di berbagai belahan bumi sebagai tindakan kriminal dan aksi terorisme. Kalaupun ada, maka itu semata-mata lahir dari adanya kepentingan politik dan ekonomi regional mereka, bukan lahir dari suatu fitrah kemanusiaan apalagi tuntutan ideologi.

Terlepas dari pencetus aksi terorisme dan cikal bakalnya, namun sudah menjadi rahasia umum bila Barat selalu menerapkan standar ganda terhadap aksi terorisme yang terjadi di seluruh dunia. Mereka tak akan pernah menyebut ekspansi militer mereka ke negeri-negeri Islam sebagai aksi terorisme, bahkan mustahil bisa menyebut kejahatan Israel di Palestina, Rezim Bashar terhadap Rakyat Sunni Suriah, Syiah Iran terhadap Kaum Sunni Ahwaz, atau Negeri Budha Myanmar terhadap umat Islam Rohingya sebagai aksi terorisme dan kejahatan kemanusiaan walaupun mereka dibantai dengan berbagai senjata terlarang termasuk senjata kimia. Padahal korban jiwa umat Islam sunni di balik aksi terorisme ini mencapai ribuan jiwa bahkan angka ratusan ribu.

Sebaliknya, bila aksi terorisme ini diarahkan kepada mereka, walaupun korbannya hanya beberapa saja seperti pembantaian Charlie Hebdo, atau hanya ratusan seperti Tragedi Paris ini, atau bahkan walaupun tidak ada korban yang jatuh sama sekali, mereka tetap akan menudingnya sebagai aksi terorisme bahkan tanpa malu-malu akan menuduh Ahli Sunnah sebagai dalang utama pelakunya. Tragisnya, standar ganda Barat ini diadopsi oleh negeri-negeri Islam sendiri termasuk Indonesia. Bila sebuah aksi pemboman atau penyanderaan pelakunya seorang muslim, semua jari akan menudingnya sebagai teroris. Berbeda jika pelakunya seorang Kristen, Katolik atau agama lain—sebagaimana dalam kasus bom Alam Sutra baru-baru ini, ia hanya akan disebut sebagai kriminal biasa dan bukan aksi terorisme.

Sungguh miris, setiap kali tragedi serupa terjadi selalu saja dijadikan batu loncatan untuk merusak citra Islam dan umat Islam serta dimodis sebagai kambing hitam untuk melegitimasi sikap ikut campur tangan mereka dalam perang melawan terorisme versi hukum dan undang-undang mereka, padahal ideologi Islam yang absah dan umat Islam secara umum tidaklah membenarkan aksi kejahatan tersebut apalagi sampai tega melakukannya.

Terlepas dari identitas Prancis sebagai musuh bebuyutan umat Islam selama berabad-abad atau bahkan sebagai teroris hakiki dalam sejarah penjajahan dan pembantaiannya atas puluhan juta muslim di negeri-negeri Islam Afrika Utara, nampaknya banyak umat Islam yang masih mau dibodohi dengan slogan atau hastag #PrayForParis, padahal selama hidupnya mungkin ia tidak pernah mendoakan saudara-saudarinya seiman yang dibantai dan dizalimi secara lebih kejam oleh negeri-negeri kafir di berbagai belahan bumi seperti Palestina, Suriah, ataupun Burma. Tidak diragukan, siapapun yang mendoakan mereka dan tidak mendoakan umat Islam, maka ini adalah satu kedunguan yang sukses mereka tanamkan dalam diri seorang muslim.

      “Membantu musuh, tidak mesti Anda menjadi agen bayaran mereka. Anda menjadi orang bodoh, bagi mereka sudah cukup“, ungkapan intelektual Mesir Muhammad Al-Ghazali ini sangat tepat untuk menggambarkan bahwa mereka yang ikut-ikutan tenggelam dalam ungkapan kesedihan melebihi kesedihannya atas pembantaian umat Islam adalah orang-orang jahil. Inilah yang diharapkan oleh negeri-negeri kafir agar menjamur dalam komunitas umat Islam.

Karenanya, seperti sebelum-sebelumnya, tragedi Paris ini akan kembali menjadi senjata utama Barat untuk lebih mencengkeramkan kuku-kukunya di negeri-negeri Islam utamanya Suriah. Tentunya dengan dalih jadul yaitu perang terhadap terorisme dan ISIS yang telah dirintis oleh Rusia. Padahal faktanya, serangan Rusia terhadap ISIS hanyalah satu alasan, bukti lapangan menunjukkan bahwa makanan empuk rudal-rudal keji Rusia adalah rakyat sunni, saudara-saudara Anda yang sama sekali bukan ISIS dan tidak tinggal di wilayah ISIS. Bahkan lokasi utama penyerangan yang mereka tujukan ke Jabal Akrad atau Hama adalah basis Mujahidin anti ISIS dan Bashar, bukan basis ISIS. Dan Prancis tak akan jauh beda dengan Rusia saat kini telah memutuskan ikut serta menurunkan pasukan di Suriah, atau bahkan akan lebih kejam lagi sekejam kriminalitas mereka sepanjang sejarah terhadap umat Islam di Afrika Utara.

Dr. Ziyad Al-Syami, seorang aktivis asal Suriah, dalam analisanya di situs almoslim.net menyebutkan bahwa pihak pertama yang diuntungkan dalam tragedi Paris ini adalah negara-negara Barat sendiri utamanya Prancis, dan yang akan menjadi korban utama balas dendam mereka adalah umat Islam sunni, bukan ISIS dan bukan pula Syiah.

Kelompok pertama yang diuntungkan adalah kelompok ekstrim kanan yang sejak lama mendalangi aksi penolakan Islam dan syiar-syiarnya di negara-negara Eropa. Tragedi Paris ini pasti akan dijadikan sebagai legitimasi penolakan mereka terhadap penyebaran Islam dan pencabutan hak kebebasan beragama mereka di negara-negara Uni Eropa.

Kelompok kedua yang diuntungkan adalah jaringan terorisme internasional yang hakiki seperti Zionis, Salibis, Rezim Bashar Asad, Syiah Rafidhah, Kaum Budha dan selain mereka. Dengan adanya Tragedi Paris ini, mereka seakan mendapati adanya dalih plus untuk lebih menambah kualitas dan kuantitas aksi terorisme mereka terhadap kaum muslimin yang tak bersalah di negeri-negeri mereka, tentunya dengan mengait-ngaitkan keterlibatan mereka dengan ISIS atau Al-Qaeda.

Penulis:

Maulana La Eda, Lc.

Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Ilmu Hadits di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia.

stiba.ac.id/2015/11/20/tragedi-paris-siapa-dirugikan/

Baca Juga  Peran Orang Tua dalam Membentuk Kepribadian Anak

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini