Wajibnya Mencintai Ummahatul Mukminin

0
81

Wajibnya Mencintai Ummahatul Mukminin

Buletin-al-Fikrah

Sebagai panutan umat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki sisi kehidupan yang selalu menjadi pusat perhatian dalam pelaksanaan ibadah maupun muamalah. Segala aktivitas beliau senantiasa menjadi bahasan yang tiada akhirnya. Demikian juga istri-istri beliau Radhiallahu anhunna. Para wanita mulia yang selalu dekat dengan kehidupan beliau, ikut menjadi perhatian karena memang mereka adalah wanita-wanita terbaik untuk mendampingi Rasul terbaik.

Kewajiban kita terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukan sekadar beriman dan mengikuti ajarannya, tapi kita juga diperintakan untuk menghormati dan memuliakan pribadi beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya), “Agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta menguatkan dan mengagungkannya.” (QS. Al-Fath: 9).

Al-Imam As-Sa’di rahimahullah berkata, “Maksudnya menguatkan, mengagungkan, dan memuliakan Rasulullah Salallahu alaihi wasalam serta menunaikan hak-haknya.” Termasuk mengagungkan dan memuliakan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini mengharuskan kita untuk mencintai mereka.

  1. Mereka adalah Ibunda Kita

Di antara pujian Allah kepada istri-istri Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah mereka digelari Ummahatul Mukminin, ibu kaum mukminin. Sebagaimana firman Allah (artinya), “… Dan istri-istri beliau adalah ibu-ibu mereka.‘’ (QS. Al-Ahzab: 6).

Asy-Syaikh al-Fauzan hafizha-hullahu Ta’ala berkata, Ahlussunnah berloyalitas kepada istri-istri Nabi yakni mencintai dan menghormati mereka karena meraka adalah ibunda dari kaum mukminin.  Karenanya, mereka pantas untukke dimuliakan, dihormati dan haram dinikahi sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah telah menyematkan gelar yang amat mulia kepada setiap orang dari mereka, yakni sebagai ibunda kaum mukminin. Maka dari itu, sebagaimana seseorang mesti mencintai, menghormati dan memuliakan ibu kandungnya, ia juga mesti mencintai, menghormati, dan memuliakan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena Allah menempatkan mereka sebagai ibu kita semua, kaum mukminin.

  1. Mereka adalah Istri Terbaik

Mereka menjadi pendamping hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukan sebuah kebetulan. Tapi mereka adalah wanita yang dipilih oleh Allah sebagai pendamping Rasul terbaik pula. Allah berfirman (artinya), “Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik pula.‘’ (QS. An-Nur: 26).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Mereka (Ahlusunnah waljamaah) memberikan layolitas kepada istri-istri Nabi para ibunda kaum mukminin. Ahlusunnah meyakini bahwa mereka adalah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di akhirat. Khususnya Khadijah ibu  bagi anak-anak beliau, orang yang pertama beriman kepada dakwahnya dan membantu urusan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Ash-Shiddiqah bintu Ash-Shiddiq yakni Aisyah radiallahu ‘anha, yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata tentangnya bahwa keutamaan Aisyah di atas keutamaan para wanita seperti keutamaan tsarid di atas seluruh makanan (al-Aqdah al-washitiyah).

Maka dari itu, kita mesti memberikan loyalitas kepada mereka dengan cara menolong dan membela mereka serta meyakini bahwa mereka adalah istri yang paling utama dari penduduk bumi karena mereka adalah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

  1. Mereka adalah Wanita Termulia.

Allah berfirman, “Wahai istri-istri Nabi, kalian tidaklah seperti wanita yang lain jika kalian bertakwa.” (QS. Al-Ahzab: 32).

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata, Allah berfirman, “Wahai istri-istri Nabi” seruan ini ditujukan kepada mereka semua, “kalian tidaklah seperti wanita yang lain jika kalian bertakwa kepada Allah,” dengan begitu kalian mengungguli semua wanita, tidak seorang wanita pun yang menyusul kalian, maka sempurnakanlah ketakwaan dengan semua perantara dan tujuannya.” (Tafsir As-Sa’di halaman: 663).

  1. Mencintai Mereka adalah Bagian dari Prinsip Ahlusunnah.

Permasalahan kecintaan kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salah satu prinsip dalam agama ini karena mereka adalah sekelompok wanita mulia yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan Nabi. Banyak ulama salaf yang mencantumkan masalah wajibnya memuliakan dan mencintai istri-istri Nabi radiallahu anhunna dalam kitab-kitab aqidah yang mereka tulis.

Al-Imam al-Barbahari rahimahullah menulis dalam Syarh as-Sunnah, “Janganlah kalian menyebutkan seorangpun dari Ummahatul Mukminin kecuali dengan kebaikan.”

  1. Mencela Salah Satu dari Mereka adalah Kekufuran

Dari dulu orang-orang munafik tidak henti-hentinya berupaya memadamkan ajaran Islam. Mereka berupaya menjatuhkan orang-orang yang dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti para sahabat dan istri-istri beliau. Sebagai contoh adalah perbuatan sekte Syiah Rafidhah yaitu mengafirkan Aisyah Ummul Mukminin dan menuduh beliau telah berzina. Tidak ada tujuan lain kecuali ingin merusak Islam. Karena Islam tersebar  melalui orang-orang terdekat Nabi termasuk istrinya Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah istri beliau yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Barangsiapa yang mencela Aisyah, pada hakikatnya ia telah menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dahulu ketika mendengar isu, tuduhan dusta tentang Aisyah beliau naik mimbar dan menguangkapkan rasa sakit hati beliau, “Wahai kaum muslimin siapa yang bisa membebaskan diriku dari seorang yang kudengar telah menyakiti keluargaku (Aisyah)? Demi Allah aku tidak mengetahui istriku kecuali kebaikan. Mereka menyebut-nyebut seorang laki-laki (Sofwan bin Mu’aththol radiallahu anhu) yang aku tidak mengetahuinya kecuali kebaikan dan ia tidak masuk ke (rumah) keluargaku kecuali bersamaku.” (HR. Al-Bukhori).

Barangsiapa yang menuduh Aisyah, dia telah menyakiti Nabi dan barangsiapa yang menyakiti nabi dia kafir. Para ulama menghukumi  kafir orang yang mencela Aisyah radhiyallahu ‘anha. Imam Malik bin Anas berkata, “Barangsiapa mencela Abu Bakar atau Umar dia dihukumi cambuk, dan barangsiapa mencela Aisyah dia dibunuh.” Ditanyakan kepada beliau, “Mengapa orang yang mencela “Aisyah” dibunuh?” Jawab beliau, “Karena Allah berfirman, “Allah memperingatkan kepada kalian agar tidak mengulangi yang semisal itu (yakni menuduh Aisyah) selama-lamanya jika kalian adalah orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nuur: 17).

Allah juga berfirman, “Sesungguhnya orang yang menuduh wanita-wanita baik yang tidak pernah terbesit dalam hatinya keinginan untuk berzina, lagi beriman, mereka dilaknat di dunia dan akhirat dan bagi mereka azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 23).

Syaikhul Islam berkata, “Ayat ini turun tentang orang yang menuduh Aisyah dan Ummul Mikminin. Sebab tuduhan terhadap mereka mengandung celaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tuduhan kepada seorang wanita berarti menyakiti suaminya dan anaknya. Sebab tuduhan tersebut berarti menyandarkan sifat dayyuts kepada si suami dan menunjukan rusaknya tempat tidurnya.”  (Ash-Sharim al-Maslul, halaman 45).

Demikian kedudukan ibunda kaum mukminin. Allah dan Rasul-Nya telah memuliakan dan meridhoi mereka semua. Kita pun diperintahkan untuk memuliakan dan mencintai mereka sebagai bentuk ketaatan kita kepada Allah dan Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam meniti jalan yang benar. Wallahu A’lam bish showab.

Penulis: Supardi

Mahasiswa STIBA Semester I Prodi Perbandingan Mazhab dan Hukum

stiba.ac.id/2016/02/05/wajibnya-mencintai-ummahatul-mukminin/

Baca Juga  Keutamaan Dan Teknis Puasa Enam Hari Di Bulan Syawal

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini